KENDARI — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Daerah Sulawesi Tenggara kembali membuka akses peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertambangan melalui kerja sama pendidikan dan pelatihan internasional.

Kali ini, PERHAPI Sultra resmi mengutus dua pengurusnya yang merupakan akademisi dari perguruan tinggi di Kendari untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan selama 40 hari di Kushiro Coal Mine (KCM), Hokkaido, Jepang.

Kedua peserta tersebut yakni Al Amin Siharis, dosen Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), dan Deniyatno, dosen Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.

Keduanya mengikuti program mulai 31 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Kegiatan tersebut difasilitasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui PPSDM Geominerba dalam kerja sama kenegaraan Indonesia-Jepang.

Kesempatan tersebut menjadi istimewa karena peserta tidak hanya mendapatkan pendidikan teknis pertambangan, tetapi juga difasilitasi selama berada di Jepang, termasuk pengenalan budaya serta kunjungan ke sejumlah kota besar di Hokkaido, termasuk Sapporo.

Ketua PERHAPI Sulawesi Tenggara, Ir. Afdhal, ST., M.P.W.K, mengatakan pengiriman dua dosen tersebut diharapkan memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan pertambangan di Sultra.

Menurutnya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program nantinya dapat ditransformasikan kepada mahasiswa sehingga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan pertambangan di Sulawesi Tenggara.

Afdhal berharap kedua utusan tersebut mengikuti seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan dengan tekun sehingga nantinya dapat menjadi sumber daya pengajar yang memiliki pengalaman lebih luas mengenai teknologi dan praktik pertambangan bawah tanah maupun bawah laut.

Kesempatan tersebut juga tidak terlepas dari upaya PERHAPI Sultra membuka akses program peningkatan kapasitas bagi anggotanya.

Sebelumnya, juru bicara PERHAPI Sultra Ahmad Faisal, ST., telah mengikuti pendidikan dan pelatihan serupa pada November hingga Desember 2025.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk membuka kesempatan berikutnya bagi pengurus PERHAPI Sultra, meski peserta yang dapat mengikuti program tersebut terbatas dan harus melalui tahapan serta persyaratan yang telah ditentukan.

“Kesempatan ini tentu sangat penting. Segudang ilmu dan pengalaman selama 40 hari akan memberikan pencerahan luar biasa, terutama dalam penerapan teknologi pertambangan,” ujar Ahmad Faisal.

Menurutnya, pembelajaran yang diperoleh di Jepang tidak hanya berkaitan dengan teknologi pertambangan. Ada nilai lain yang juga dinilai penting untuk dibawa pulang, seperti kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, profesionalisme, ketekunan, saling menghargai dan menjaga budaya.

Sementara itu, Kushiro Coal Mine menjadi salah satu objek penting dalam program tersebut karena merupakan tambang batubara bawah tanah yang aktivitas penambangannya berada di bawah dasar laut Samudra Pasifik.

KCM saat ini dikelola oleh Kushiro Coal Mine Company setelah mengambil alih pengelolaan dari Taiheiyo Coal Mine pada 2002.

Dalam kegiatan operasionalnya, tambang tersebut menggunakan metode penambangan bawah tanah dengan sistem bord and pillar serta dilengkapi teknologi untuk pemantauan dan pencegahan gas metana.

Produksi batubara KCM disebut berada pada kisaran 200.000 hingga 300.000 ton per tahun, dengan sebagian besar produksinya dipasok untuk kebutuhan Kushiro Thermal Power Station atau pembangkit listrik tenaga uap.

Salah satu aspek yang menarik dari sistem pertambangan KCM adalah pemanfaatan gas metana yang ditangkap dari aktivitas tambang. Gas tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan energi, termasuk listrik, memasak dan pemanas ruangan ketika musim salju.

KCM memiliki sejarah panjang. Aktivitas pertambangan di kawasan tersebut dimulai pada 1920. Dalam perkembangannya, perusahaan kemudian menerapkan teknologi penambangan bawah laut Samudra Pasifik.

Pengalaman panjang tersebut menjadi salah satu alasan KCM dipandang sebagai tempat penting untuk mempelajari teknologi, keselamatan kerja dan pengelolaan tambang bawah tanah serta bawah laut.

Bagi PERHAPI Sultra, keberangkatan dua dosen tersebut bukan sekadar program peningkatan kapasitas individu. Ada misi yang lebih besar, yakni membawa pengalaman pertambangan internasional masuk ke ruang-ruang pendidikan di Sulawesi Tenggara.

Dengan latar belakang sebagai dosen teknik pertambangan, Al Amin Siharis dan Deniyatno diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama berada di Jepang kepada mahasiswa di kampus masing-masing.

Hal itu dinilai penting di tengah kebutuhan industri pertambangan terhadap sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami perkembangan teknologi, keselamatan kerja dan praktik pertambangan modern.

Afdhal juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang memberikan dukungan terhadap program tersebut, khususnya PT Aneka Tambang UBPN Kolaka, Perusda BUMD Kolaka, dan CV Unaaha Bakti Persada (UBP).

Dukungan tersebut dinilai menjadi bentuk kepedulian dunia usaha terhadap pengembangan sumber daya manusia bidang pertambangan, khususnya melalui program corporate social responsibility (CSR).

“Dukungan ini menjadi perhatian penting terhadap dunia pendidikan pertambangan, khususnya di jazirah Sulawesi Tenggara, dalam rangka peningkatan Human Resources Development,” tutup Afdhal.

Kini, selama 40 hari di Hokkaido, dua akademisi pertambangan asal Sultra tersebut akan mendapatkan pengalaman langsung mengenai teknologi dan budaya kerja pertambangan Jepang.

Harapannya, ilmu dari tambang bawah laut Samudra Pasifik tidak berhenti di Jepang, tetapi dibawa pulang ke Kendari dan diteruskan kepada generasi baru mahasiswa teknik pertambangan Sulawesi Tenggara.

70 / 100 Skor SEO