Kendari – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk periode 1-10 September 2026.

Peringatan tersebut tertuang dalam Buletin Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Provinsi Sulawesi Tenggara yang diterbitkan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV pada 31 Agustus 2026.

BMKG mencatat kondisi iklim Sultra saat ini dipengaruhi El Nino Sangat Kuat. Monitoring ENSO wilayah Nino 3.4 pada dasarian II Agustus 2026 menunjukkan indeks +2,99.

Kondisi El Nino Sangat Kuat tersebut diprediksi BMKG masih bertahan hingga awal 2027. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada dalam kondisi positif dengan indeks 0,394 dan diprakirakan bertahan hingga akhir 2026.

BMKG menyebut hingga dasarian II Agustus 2026, sebanyak 18 dari 19 zona musim di Sultra telah mengalami musim kemarau 2026.

Wilayah yang terdampak mencakup seluruh wilayah Baubau, Bombana, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Kendari, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Muna, Muna Barat dan Wakatobi.

Kemarau juga telah terjadi di sebagian wilayah Konawe dan Konawe Utara.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mewaspadai dampak kekeringan, terutama di wilayah yang masuk dalam kategori peringatan dini kekeringan meteorologis.

Dalam peta peringatan dini BMKG, sejumlah wilayah bahkan masuk kategori Awas.

Di Kota Baubau, wilayah yang masuk kategori Awas meliputi Batupoaro, Betoambari, Bungi, Kokalukuna, Lea-Lea, Murhum dan Wolio. Sementara Sorawolio masuk kategori Siaga.

Di Bombana, wilayah kategori Awas mencakup Kabaena Barat, Kabaena Selatan, Kabaena Tengah, Lantari Jaya, Matausu, Poleang Barat, Poleang Tenggara, Poleang Timur, Poleang Utara, Rarowatu Utara dan Rumbia.

Sejumlah wilayah lainnya seperti Kabaena, Kabaena Timur, Kabaena Utara, Kepulauan Masaloka Raya, Mataoleo, Poleang, Poleang Selatan, Poleang Tengah, Rarowatu, Rumbia Tengah dan Tontonunu masuk kategori Siaga.

Sementara di Buton Selatan, wilayah Batauga, Kadatua, Sampolawa, Siompu dan Siompu Barat berada pada kategori Awas. Batu Atas dan Lapandewa masuk kategori Siaga.

Untuk Kota Kendari, BMKG mencatat tidak ada wilayah yang masuk kategori Awas. Namun sejumlah kecamatan berada pada kategori Siaga.

Wilayah tersebut yakni Abeli, Baruga, Kadia, Kambu, Kendari, Kendari Barat, Mandonga, Nambo, Poasia, Puuwatu dan Wua-Wua.

Di Kolaka, Iwoimendaa, Kolaka dan Samaturu masuk kategori Waspada. Sedangkan Latambaga, Pomalaa, Tanggetada, Watubangga, Wundulako dan Wolo berada pada kategori Siaga.

Di Kolaka Timur, Ladongi berada pada kategori Waspada, sementara Mowewe, Tinondo, Ueesi dan Uluiwoi masuk Siaga. Aere, Dangia, Lalolae, Lambandia, Loea, Poli Polia dan Tirawuta masuk kategori Awas.

Kewaspadaan juga berlaku di Konawe Selatan. Angata, Laeya, Ranomeeto dan Sabulakoa masuk kategori Waspada.

Kemudian Baito, Konda, Lalembuu, Landono, Moramo, Moramo Utara, Mowila, Palangga, Palangga Selatan, Ranomeeto Barat dan Wolasi masuk kategori Siaga.

Sementara Andoolo, Andoolo Barat, Basala, Benua, Buke, Kolono, Kolono Timur, Lainea, Laonti dan Tinanggea masuk kategori Awas.

Untuk Muna, sejumlah wilayah seperti Batalaiwaru, Bone, Duruka, Kabangka, Katobu, Kontu, Kowuna, Kontunaga, Lasalepa, Lohia, Maligano, Marobo, Napabalano, Tongkuno Selatan, Towea dan Watopute masuk kategori Awas.

Sedangkan Batukara, Kabawo, Parigi, Pasi Kolaga, Pasir Putih, Tongkuno dan Wakorumba Selatan masuk Siaga.

Di tengah ancaman kekeringan tersebut, BMKG tidak memprakirakan adanya peringatan dini curah hujan tinggi di Sultra pada 1-10 September 2026.

Kategori Waspada, Siaga maupun Awas untuk curah hujan tinggi tercatat nihil di seluruh kabupaten/kota Sultra.

BMKG juga memprakirakan pada 1-3 September, 4-6 September, serta 7-10 September tidak ada potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai guntur dan angin kencang.

BMKG meminta informasi tersebut dijadikan bahan kewaspadaan dan pertimbangan untuk melakukan langkah mitigasi terhadap dampak ikutan kondisi cuaca dan iklim.

“Informasi ini bisa dijadikan kewaspadaan dan pertimbangan untuk melakukan langkah mitigasi dampak ikutan kondisi tersebut,” demikian rekomendasi BMKG dalam dokumen tersebut.

Sumber data: Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara dan Stasiun Meteorologi Maritim Kendari. 

17 / 100 Skor SEO