KENDARI, PERDETIKNEWS.COM – Di atas hamparan pesisir yang terbuka, bibit-bibit mangrove mulai ditanam ke dalam tanah.

Dengan sepatu bot kuning dan topi caping, Kapolda Sulawesi Tenggara Irjen Pol Himawan Bayu Aji ikut berjongkok, menempatkan bibit mangrove di antara lumpur dan pasir.

Di salah satu sisi teluk Kendari, Jumat (16/10/2026) itu, kegiatan penanaman mangrove tidak hanya melibatkan jajaran kepolisian.

Masyarakat, Dinas Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara, serta pemerintah setempat turut hadir dalam gerakan menjaga lingkungan pesisir.

Ratusan batang mangrove ditanam pada tahap pertama. Jumlah itu menjadi awal dari program yang dirancang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial yang selesai ketika acara berakhir.

Bagi Kapolda Sultra, menjaga keamanan tidak hanya berkaitan dengan ketertiban masyarakat. Lingkungan yang terawat juga menjadi bagian dari ruang hidup yang perlu dijaga bersama.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi program quick wins Kapolri, khususnya upaya mewujudkan ruang publik yang aman melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui kebijakan “Jaga Bumi Anoa”, Polda Sultra membawa pesan yang lebih luas: menjaga masyarakat, menjaga wilayah, menjaga lingkungan, menjaga persatuan, dan menjaga kepercayaan.

Di pesisir, pesan itu diterjemahkan melalui tindakan sederhana yang memiliki arti jangka panjang. Bibit yang hari ini ditanam membutuhkan perawatan agar kelak tumbuh dan menjalankan fungsinya sebagai bagian dari ekosistem pantai.

Mangrove dikenal memiliki peran penting dalam menahan abrasi, menjadi habitat berbagai biota, serta mendukung kehidupan masyarakat pesisir.

Keberadaannya juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi sebagian warga.

Karena itu, penanaman mangrove tidak bisa berdiri sendiri. Bibit yang ditanam perlu dipantau, dirawat, dan dijaga agar dapat tumbuh dengan baik.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara, Hajjah Hikmawaty Amir, S.Pi., M.Si., menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga sumber daya alam.

Menurut dia, potensi kelautan dan perikanan Sultra harus dikelola dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Pemanfaatan sumber daya alam tidak boleh mengabaikan kondisi ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

Prinsip tersebut sejalan dengan program Agromaritim Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, yang mendorong pengembangan sektor pertanian, kelautan, dan perikanan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Di luar kegiatan penanaman, pengawasan kawasan pesisir juga menjadi bagian dari pekerjaan yang terus dilakukan.

Dinas Kelautan dan Perikanan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Polisi Perairan dan TNI Angkatan Laut, dalam pengawasan sumber daya kelautan.

 

Pengawasan tersebut mencakup pemanfaatan kawasan pesisir untuk kegiatan usaha. Setiap pengajuan izin pembukaan lahan atau pemanfaatan wilayah pesisir, termasuk di Konawe Selatan, perlu diperiksa kesesuaiannya dengan ketentuan tata ruang dan zonasi wilayah pesisir yang berlaku.

Laporan masyarakat mengenai aktivitas di kawasan pesisir juga menjadi perhatian dinas untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, Kapolda Sultra turut menyoroti persoalan kebakaran lahan dan kiriman asap di sejumlah titik wilayah Sulawesi Tenggara.

Kepolisian melakukan edukasi dan langkah pencegahan, serta penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran terkait pembakaran lahan.

Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap dampak asap bagi kesehatan dan menggunakan masker apabila diperlukan.

Berbagai upaya tersebut memperlihatkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan sumber daya alam tetap terpelihara.

Pada akhirnya, 150 bibit mangrove itu bukan hanya tentang jumlah pohon yang ditanam dalam satu kegiatan. Ada pekerjaan lanjutan yang menunggu: memastikan bibit bertahan hidup, menjaga kawasan dari kerusakan, serta membangun kesadaran bahwa pesisir merupakan bagian penting dari kehidupan bersama.

Dari pesisir Sulawesi Tenggara, gerakan “Jaga Bumi Anoa” membawa satu pesan, menjaga alam tidak cukup dengan menanam, tetapi harus dilanjutkan dengan merawat dan melindunginya bersama-sama.

 

Editor.San.

Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Polling aktif
Ikut Polling →
dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM
Kota Kendari
Polling aktif
Ikut Polling →
Yusran Akbar
Kabupaten Konawe
Polling aktif
Ikut Polling →
La Ode Darwin
Kabupaten Muna Barat
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Amri Jamaluddin, S.STP., M.Si.
Kabupaten Kolaka
Polling aktif
Ikut Polling →
Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si
Kabupaten Konawe Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Rifqi Saifullah Razak, S.T.
Kabupaten Konawe Kepulauan
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H.
Kabupaten Kolaka Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Bachrun, M.Si
Kabupaten Muna
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Muhammad Adios, S.Sos
Kabupaten Buton Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si
Kabupaten Buton Tengah
Polling aktif
Ikut Polling →
Alvin Akawijaya Putra, S.H.
Kabupaten Buton
Polling aktif
Ikut Polling →
Afirudin Mathara, S.H., M.H.
Kabupaten Buton Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Ir. H. Burhanuddin, M.Si.
Kabupaten Bombana
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Haliana, S.E.
Kabupaten Wakatobi
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yusran Fahim, S.E.
Kota Baubau
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Ikbar, S.H., M.H.
Kabupaten Konawe Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd
Kabupaten Kolaka Timur
Polling aktif
Ikut Polling →
65 / 100 Skor SEO