KENDARI, – Optimisme membayangi lanskap investasi Sulawesi Tenggara (Sultra) seiring dengan geliat pembangunan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) oleh raksasa smelter nikel asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt Co.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sultra, Parinringi, menegaskan bahwa kehadiran megaproyek di Kolaka ini tidak hanya akan memacu sektor industri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi sektor-sektor potensial lainnya di wilayah tersebut.
“Tren investasi di Sultra saat ini menunjukkan pemerataan. Selain pengembangan kawasan industri yang dipelopori Huayou di Pomalaa, sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata juga menjadi daya tarik kuat bagi para investor,” ujar Parinringi kepada Perdetiknews di Kendari, Jumat (2/5).
Pernyataan Parinringi ini sejalan dengan proyeksi Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, yang sebelumnya mengungkapkan bahwa IPIP berpotensi menarik investasi lanjutan hingga US$20 miliar dalam rantai pasok baterai listrik.
Parinringi meyakini, aktivitas IPIP akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Sultra secara keseluruhan, menciptakan multiplier effect yang signifikan, termasuk penyerapan tenaga kerja di sekitar kawasan industri.
Lebih lanjut, geliat pembangunan infrastruktur untuk mendukung IPIP juga menarik minat investor lain. Kalla Beton, perusahaan penyedia beton curah siap pakai milik mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, turut memperkuat kehadirannya di Sultra dengan membangun pabrik (batching plant) berkapasitas besar di Pomalaa.
Chief Operating Officer (COO) Kalla Beton, Ali Syamsu Wairooy, menyatakan bahwa pabrik dengan kapasitas 60 meter kubik per jam ini didirikan untuk memenuhi permintaan beton berkualitas tinggi bagi berbagai proyek infrastruktur, terutama pembangunan smelter yang marak di wilayah tersebut.
“Ekspansi ini menjadi bagian dari upaya kami untuk memperkuat kapasitas produksi dan memenuhi permintaan beton berkualitas tinggi untuk proyek-proyek konstruksi yang sedang berlangsung di daerah tersebut,” jelas Ali Syamsu Wairooy.
Kalla Beton juga berencana mengalokasikan peralatan baru seperti truck mixer dan concrete pump untuk mendukung operasional dan memperluas jangkauan pasar di Pomalaa dan sekitarnya.
Tak hanya di Pomalaa, Kalla Beton juga tengah membangun pabrik serupa di Unaaha, Kabupaten Konawe, dengan kapasitas 30 meter kubik per jam, yang juga bertujuan untuk menyokong kebutuhan proyek smelter di wilayah tersebut.
Langkah strategis Kalla Beton ini menunjukkan sinergi positif antara investasi di sektor industri pengolahan nikel dengan industri pendukungnya, seperti penyediaan material konstruksi.
Parinringi menekankan komitmen DPMPTSP Sultra dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Berbagai kemudahan, terutama dalam pelayanan perizinan, diberikan kepada para investor.
“Prioritas utama kami adalah memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para investor agar mereka betah dan terus mengembangkan investasinya di Sultra,” tegasnya.
Untuk memastikan potensi investasi daerah terus dilirik dan realisasi investasi terpantau, DPMPTSP Sultra secara rutin menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Investasi.
Forum ini menjadi wadah untuk mempromosikan peluang investasi sekaligus memverifikasi laporan realisasi investasi dari para pelaku usaha kepada Kementerian Investasi.
Sinergi antara investasi besar di sektor industri, seperti yang tengah berjalan di Pomalaa, dengan potensi sektor-sektor lain seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata, serta dukungan industri pendukung seperti Kalla Beton, diyakini akan menjadi motor penggerak ekonomi Sultra yang berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara optimis bahwa dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan kemudahan perizinan, Sultra akan semakin menjadi destinasi investasi yang menarik di peta nasional.
Kehadiran IPIP dan investasi pendukungnya diharapkan tidak hanya menguntungkan sektor pertambangan dan pengolahan nikel, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan sektor-sektor lain yang memiliki potensi besar di Bumi Anoa. (Ixan)