PERDETIKNEWS.COM – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti dugaan praktik mafia pangan di tengah persoalan harga ayam, telur, beras, dan sejumlah kebutuhan pokok. Ia menilai upaya pemerintah mengendalikan inflasi tidak akan efektif jika dugaan permainan dalam rantai perdagangan pangan tidak ditangani secara serius.
Dalam rapat pemerintah yang terekam dalam transkrip yang diterima redaksi, Amran mengungkapkan kegelisahannya melihat kondisi peternak yang mengeluhkan harga jual, sementara konsumen juga menghadapi persoalan harga pangan.
“Yang demo adalah produsen, konsumen juga demo. Dua-dua demo,” kata Amran dalam rapat tersebut.
Menurut Amran, kondisi itu menunjukkan persoalan tata niaga pangan yang perlu ditelusuri lebih jauh. Ia mempertanyakan bagaimana produsen bisa tertekan oleh harga jual, sedangkan masyarakat masih harus berhadapan dengan harga kebutuhan pokok.
Amran juga mengkritik pihak-pihak yang diduga mengambil keuntungan dari perdagangan pangan. Ia meminta persoalan tersebut ditangani secara serius dan tidak berhenti pada rapat koordinasi pengendalian inflasi.
“Yang main orang di luar,” ujarnya.
Amran turut menyoroti kondisi stok pangan yang disebut melimpah, tetapi persoalan harga masih menjadi perhatian pemerintah.
“Dulu alasannya tidak ada stok, sekarang melimpah stok,” katanya.
Ia menilai pemerintah perlu menelusuri persoalan yang terjadi dalam distribusi dan perdagangan pangan. Menurutnya, upaya menjaga stabilitas harga akan sulit mencapai hasil maksimal apabila dugaan permainan oleh pihak tertentu tidak ditindaklanjuti.
Dalam rapat tersebut, Amran juga menyinggung komoditas ayam dan telur yang menjadi perhatian setelah peternak menyampaikan keluhan. Ia menggambarkan situasi ketika produsen merasa tertekan oleh harga jual, sedangkan konsumen juga mengeluhkan harga di pasaran.
Kondisi ini membuat persoalan harga pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan barang, tetapi juga bagaimana komoditas bergerak dari produsen hingga sampai ke konsumen.
Dalam rapat itu, Amran menyinggung dugaan keuntungan besar yang dapat diperoleh pihak tertentu dari perubahan harga pangan.
Ia menyebut kenaikan harga Rp1.000 dapat menghasilkan keuntungan hingga miliaran rupiah dalam sehari. Namun, transkrip rapat tidak merinci komoditas, volume transaksi, maupun dasar perhitungan angka tersebut.
Amran juga menyinggung perusahaan dan merek produk yang menurutnya telah diperlihatkan dalam rapat sebelumnya. Ia mendesak agar penanganan dugaan pelanggaran tidak hanya menyasar jajaran direksi apabila terdapat pihak lain yang bertanggung jawab.
“Owner-nya tidak masuk, enggak kena. Ya ganti direksi saja,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Amran ketika mengkritik penanganan persoalan yang menurutnya belum menyentuh pihak yang dianggap paling bertanggung jawab.
Selain ayam, telur, dan beras, Amran turut menyoroti produk yang disebut sebagai produk fortifikasi. Ia mempertanyakan harga jual serta kesesuaian kandungan vitamin pada produk tersebut.
Dalam rapat, Amran menyatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan laboratorium dan mempertanyakan apakah kandungan vitamin yang seharusnya terdapat dalam produk benar-benar ditemukan.
Ia juga menyinggung harga produk yang menurutnya tidak sesuai dengan tujuan penyediaan pangan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Pembahasan tersebut menjadi bagian dari kritik Amran terhadap dugaan praktik perdagangan yang dinilainya merugikan masyarakat. Hasil pemeriksaan laboratorium dan identitas produk yang dimaksud masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti persoalan yang terjadi.
Amran menyatakan pihaknya telah menyurati Kapolri terkait persoalan yang disorotnya. Ia juga mendorong koordinasi dengan kepolisian dan kejaksaan untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran dalam tata niaga pangan.
“Kita harus turun tangan semua, kolaborasi dengan kejaksaan dengan kepolisian,” kata Amran.
Ia menilai persoalan tersebut tidak cukup ditangani melalui rapat pengendalian inflasi apabila terdapat dugaan praktik yang mengganggu perdagangan pangan.
Meski demikian, transkrip rapat belum menjelaskan secara rinci nomor surat, pihak yang dilaporkan, maupun perkembangan penanganan oleh aparat penegak hukum.
Dalam pengantar rapat, pemerintah memaparkan angka inflasi sebesar 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus. Pemerintah juga menyoroti risiko inflasi yang meningkat apabila harga sejumlah kebutuhan pokok tidak terkendali.
Komoditas yang menjadi perhatian antara lain cabai, beras, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Sektor makanan, minuman, dan tembakau disebut menjadi salah satu penyumbang inflasi yang perlu diwaspadai.
Dalam rapat tersebut, pemerintah mendorong koordinasi dengan Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas harga, termasuk melalui operasi pasar dan intervensi pada daerah yang mengalami kenaikan.
Di tengah upaya tersebut, Amran meminta dugaan permainan dalam tata niaga pangan mendapat perhatian serius. Baginya, menjaga harga tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan barang, tetapi juga membutuhkan pengawasan terhadap proses perdagangan dan distribusi.
Persoalan dugaan mafia pangan kini menjadi salah satu isu yang disorot dalam pembahasan pengendalian inflasi. Tindak lanjut laporan, pemeriksaan data perdagangan, serta penanganan oleh aparat penegak hukum akan menjadi bagian penting untuk mengungkap apakah terdapat pelanggaran dalam rantai distribusi pangan.
Editor: San



Tinggalkan Balasan