KENDARI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), memanen 3,1 kilogram cabai dari lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian warga binaan.
Panen tersebut dilakukan oleh petugas bersama warga binaan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di lingkungan lapas. Meski memiliki keterbatasan area, pihak lapas terus mengoptimalkan setiap ruang agar dapat digunakan untuk kegiatan pertanian produktif.
Kepala Lapas Kelas IIA Baubau, Abdul Waris, mengatakan keterbatasan lahan tidak menghalangi pelaksanaan program pembinaan. Menurutnya, pemanfaatan lahan secara maksimal dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan keterampilan kepada warga binaan.
Melalui program SAE, warga binaan memperoleh pengetahuan dan pengalaman langsung dalam bercocok tanam. Pembinaan tersebut meliputi pengolahan media tanam, perawatan tanaman, pengendalian hama, hingga proses panen.
Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Baubau, Safaruddin, menjelaskan bahwa pemilihan tanaman cabai didasarkan pada karakteristik tanaman yang relatif cepat dipanen serta kondisi lahan yang tersedia.
Ia menambahkan, hasil panen tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus bahan evaluasi untuk mengembangkan kegiatan pertanian secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga mendukung Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya poin kedelapan tentang kemandirian pangan. Program tersebut mendorong lapas dan rumah tahanan (rutan) di seluruh Indonesia untuk memanfaatkan lahan yang belum produktif menjadi area pertanian, perikanan, maupun peternakan.
Pihak Lapas Baubau berharap kegiatan panen dapat terus dikembangkan secara konsisten. Selain menghasilkan komoditas untuk kebutuhan internal, program ini diharapkan membekali warga binaan dengan keterampilan bercocok tanam sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.



Tinggalkan Balasan