Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan terlalu berbahaya bagi Ukraina untuk menggelar Pemilu saat negaranya sedang memerangi invasi Rusia. Hal itu disampaikan Zelensky usai mantan menteri pertahanannya, Mykhailo Fedorov, menyerukan diadakan Pemilu.
Ukraina telah menangguhkan pemilihan umum di bawah aturan darurat militer, sebuah langkah yang masih didukung luas oleh masyarakat karena negara tersebut fokus melawan invasi Rusia yang dimulai pada tahun 2022.
“Saya yakin bahwa dalam perang seperti ini, pemilihan umum merupakan risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini ibarat tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina,” ujar Zelensky, dilansir AFP, Minggu (23/8/2026).
“Jika kita ingin menghancurkan negara ini, maka kita bisa melangkah ke arah penyelenggaraan pemilu di masa perang seperti sekarang,” tambah pria berusia 48 tahun yang menjabat sebagai presiden sejak 2019 itu.
Ia menyampaikan komentar tersebut pada hari Sabtu dalam sebuah taklimat bersama para jurnalis, termasuk dari AFP. Ini merupakan pertemuan pertama dalam beberapa bulan terakhir di tengah berbagai krisis politik.
Diketahui, gejolak terbaru terjadi ketika ribuan orang turun ke jalan setelah Zelensky memecat menteri pertahanan yang populer, Mykhailo Fedorov.
Fedorov, yang telah dicopot dari jabatannya, sempat menyerukan mencari cara untuk menggelar pemilu, namun tanpa menawarkan peta jalan yang jelas, sehingga membuat sebagian pendukungnya pun menjauh darinya.
Para ahli menyebutkan adanya berbagai hambatan bagi penyelenggaraan pemilu, termasuk mengenai bagaimana para tentara, jutaan pengungsi Ukraina, dan penduduk di wilayah pendudukan dapat memberikan suara, serta adanya ancaman disinformasi dari Rusia.
sumber: detik news




Tinggalkan Balasan