Barcelona, Raphinha, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah tertangkap kamera melakukan gestur provokatif kepada suporter Atletico Madrid.
Insiden ini terjadi setelah laga perempat final Liga Champions 2025-2026 di Stadion Metropolitano, di mana ia kedapatan memberikan isyarat bahwa tim tuan rumah akan segera gugur di fase selanjutnya.
Dalam momen yang terekam kamera tersebut, Raphinha terlihat mengisyaratkan bahwa Los Colchoneros akan tersingkir saat berhadapan dengan Arsenal di babak semifinal UEFA Champions League.
Pemain asal Brasil itu bahkan sempat melontarkan kata-kata “pa’ fuera” yang merujuk pada prediksi kegagalan lawan, yang kemudian memicu reaksi keras di berbagai media Spanyol.
Melalui media sosial Instagram, pemain bernomor punggung 11 tersebut mengklarifikasi bahwa tindakannya dipicu oleh emosi sesaat.
Ia Mengaku Kehilangan kendali setelah mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari oknum pendukung di tribun saat ia sedang memberikan apresiasi kepada pendukung tim tamu.
“Saya meminta maaf atas tindakan saya, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau karakter saya,” jelas Raphinha dikutip dari Football Espana, Kamis (16/4/2026).
“Itu adalah tindakan yang dilakukan dalam momen tegang, sebagai respons terhadap seorang penggemar yang tidak menghormati saya.”

Kritik Keras Terhadap Kepemimpinan Wasit Selain perselisihan dengan penonton, kekecewaan mendalam juga ia tujukan kepada wasit yang memimpin pertandingan tersebut.
Meski absen bermain karena cedera, ia hadir langsung dan mengecam kepemimpinan pengadil lapangan yang dinilai merugikan Blaugrana hingga tersingkir dengan agregat 2-3.
Ia secara lantang menyebut kepemimpinan tersebut “mengerikan” dan bahkan mengeklaim bahwa “pertandingan itu dirampok.”
Raphinha menyoroti ketimpangan hukuman kartu yang diberikan oleh sang pengadil kepada kedua tim sepanjang laga berlangsung.
“Wasit sangat buruk; keputusan yang dibuatnya sungguh tidak bisa dipercaya,” kata Raphinha dikutip dari Football Espana.
“Atletico melakukan pelanggaran yang tak terhitung jumlahnya, dan wasit bahkan tidak memberi mereka kartu kuning.”
“Saya benar-benar ingin memahami ketakutannya bahwa Barca mungkin lolos ke babak selanjutnya,” tambah sang pemain. Ancaman Sanksi UEFA dan Masa Pemulihan Atas rentetan aksi emosional dan kritik pedasnya terhadap otoritas pertandingan, posisi sang pemain kini terancam.
Berdasarkan aturan etika UEFA, ia berpotensi dijatuhi hukuman larangan bertanding hingga tiga laga di kompetisi Eropa musim depan, serupa dengan hukuman yang pernah diterima oleh Neymar Junior.(kompas.com)


Tinggalkan Balasan