Kendari – Jarum jam baru saja menunjuk pukul 02.00 WITA. Di saat sebagian besar warga masih terlelap, suasana di Masjid Al-Ikhlas Citraland Kendari justru mulai hidup.

Lampu menyala, lantunan ayat suci terdengar lirih, dan beberapa jamaah tampak khusyuk dalam ibadah malam.

Di waktu yang sunyi itu, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka datang tanpa hiruk-pikuk.

Tidak ada penyambutan khusus, tidak pula pengawalan mencolok. Ia melangkah masuk ke masjid, lalu duduk bersila, menyatu dengan warga dalam suasana iktikaf.

Di sepuluh malam terakhir Ramadan, ketika umat Muslim berburu Lailatul Qadar, kehadiran seorang pemimpin di tengah jamaah menjadi pemandangan yang menghangatkan.

Ia tidak tampil sebagai pejabat, melainkan sebagai hamba yang sama datang untuk berdoa, berharap ampunan, dan mencari keberkahan.

“Di hadapan Allah SWT, kita semua sama. Tidak ada jabatan, tidak ada perbedaan,” ujar Andi Sumangerukka dalam obrolan ringan bersama warga.

Iktikaf di waktu dini hari menghadirkan nuansa yang berbeda. Tidak ada kebisingan, hanya suara doa dan zikir yang mengalun pelan.

Di sudut masjid, ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang bersujud lebih lama, dan ada pula yang sekadar menunduk dalam hening.

Kehadiran gubernur di tengah suasana itu seolah menghapus batas antara pemimpin dan rakyat. Semua larut dalam tujuan yang sama: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi tentang sejauh mana kita mendekatkan diri kepada Allah. Jika di tengah kesibukan saja kita masih bisa meluangkan waktu untuk iktikaf, maka ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan,” demikian pesan yang disampaikan.

Menjelang waktu sahur, suasana berubah menjadi lebih hangat. Jamaah mulai berkumpul, hidangan sederhana disiapkan, dan kebersamaan pun terasa semakin nyata.

Tidak ada perbedaan tempat duduk. Gubernur, pengurus masjid, hingga warga biasa duduk dalam satu barisan.

Mereka berbagi makanan, berbincang ringan, dan menikmati momen kebersamaan yang jarang terjadi dalam keseharian.

Ketua Pengurus Masjid Al-Ikhlas Citraland Kendari, dr Sukirman, menyebut kehadiran gubernur membawa semangat baru bagi jamaah.

“Alhamdulillah, kehadiran beliau membuat masjid lebih hidup. Jamaah semakin antusias untuk beriktikaf dan sahur bersama,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua RT setempat, Muhtar, yang menilai momen tersebut mempererat hubungan sosial warga.

“Ini bukan hanya ibadah, tapi juga kebersamaan. Warga merasa lebih dekat, baik dengan sesama maupun dengan pemimpinnya,” katanya.

Apa yang terjadi di Masjid Al-Ikhlas bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan potret kepemimpinan yang membumi.

Kesederhanaan, kesetaraan, dan kebersamaan hadir dalam satu ruang yang sama.

Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk dunia, iktikaf menjadi ruang jeda tempat manusia kembali pada fitrahnya.

Dan di pukul 02.00 dini hari itu, di antara doa-doa yang dipanjatkan, terselip pesan sederhana, bahwa kedekatan dengan Tuhan dan sesama bisa dimulai dari langkah kecil datang ke masjid, duduk bersama, dan beribadah tanpa sekat.

Dari sana, Ramadan menemukan maknanya. (red)

55 / 100 Skor SEO