KOLAKA, PERDETIK – Pekarangan Kantor Camat Pomalaa terus dipadati warga sejak dibukanya Gerakan Pangan Murah (GPM) pada pukul 09.00 WITA, Senin (2/3/2026).
Pantauan media di lokasi menunjukkan arus kedatangan warga yang tak henti-hentinya berdatangan untuk memanfaatkan komoditas pangan murah yang disiapkan Kadin Sultra dan Kadin Kolaka.
Warga terlihat datang silih berganti; ada yang berjalan kaki dari permukiman sekitar, hingga yang menggunakan sepeda motor.
Area parkir kantor kecamatan pun nampak penuh oleh kendaraan warga yang antusias menebus paket sembako bersubsidi.
Meski tidak terjadi penumpukan dalam satu waktu yang bersamaan, namun ritme warga yang datang secara terus-menerus membuat petugas kewalahan.
Skema antrean dibuat bergantian agar pelayanan tetap tertib dan warga tidak perlu berdesakan di bawah terik matahari.
“Kami datang bergantian dengan tetangga. Saya jalan kaki saja karena dekat, tapi yang lain banyak juga yang pakai motor. Sayang kalau dilewatkan karena selisih harganya lumayan dibanding pasar,” ujar salah seorang warga yang baru saja menyelesaikan transaksi.
Kehadiran GPM ini merupakan respons nyata Kadin Sultra atas instruksi Ketua Umum Anton Timbang guna menekan angka inflasi Kabupaten Kolaka yang saat ini mencapai 7,77 persen.

Kadin memberikan subsidi harga hingga Rp 5.000 per paket untuk meringankan beban ekonomi masyarakat.
Andi Yuslim Patawari (AYP) Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bersama Wakil Ketua Kadin Sultra, Sastra Alamsyah dan pengurus Kadin Sultra, yang memantau langsung pergerakan warga, menyebut pola kedatangan warga yang tak kunjung putus ini menandakan bahwa masyarakat sangat membutuhkan intervensi harga.
“Sejak dibuka jam 9 tadi, warga tak henti-hentinya berdatangan. Ada yang jalan kaki, ada yang naik motor, semua kita layani secara bergantian. Ini membuktikan bahwa daya beli masyarakat memang sedang terpukul dan harga di pasar sudah di luar batas kewajaran,” ungkapnya.
Di sela-sela pantauan kedatangan warga, Sastra kembali menegaskan bahwa fenomena ini menjadi bukti adanya ketimpangan distribusi di Kolaka.
Ia kembali menyoroti dugaan permainan mafia logistik dan pangkalan LPG nakal yang menjual gas hingga Rp 25.000.
“Harapan kita, intervensi ini tidak hanya dari sisi pangan. Satgas Pangan harus melihat antusiasme warga di sini sebagai sinyal bahwa di pangkalan dan distributor ada yang tidak beres,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, arus warga di pekarangan Kantor Camat Pomalaa masih terpantau padat merayap namun tetap kondusif.
Warga terus berdatangan untuk mendapatkan beras, minyak goreng, dan gula pasir murah sebagai persiapan memasuki bulan suci Ramadan.(red/red)


Tinggalkan Balasan