Jakarta – Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Di sebuah bar temaram di kawasan Senopati, kepulan asap rokok tipis menyelimuti wajah Mawar (nama samaran).

Ia bukan gadis sembarangan yang Anda temui di halte busway. Penampilannya paripurna: gaun satin yang memeluk lekuk tubuh, aroma parfum seharga jutaan rupiah, dan tas desainer terbaru yang tergeletak manis di samping gelas martini-nya.

Namun, di balik riasan flawless itu, tersimpan sebuah rahasia yang ia simpan rapat dari dunia luar: Ia adalah “piaraan” seorang penguasa gedung tinggi di Sudirman.

... ...

Mawar memulai kisahnya dengan sebuah pengakuan jujur yang dingin. Bagi banyak gadis perantauan, Jakarta adalah medan tempur. Baginya, itu adalah etalase.

“Jakarta itu keras kalau kamu tidak punya uang, tapi sangat ramah kalau kamu punya segalanya. Saya memilih jalan yang paling ramah,” ujarnya sembari menyesap minumannya.

Awalnya adalah tawaran makan malam. Kemudian berubah menjadi kunci apartemen di kawasan SCBD dan kartu kredit tanpa limit. Sang pria, yang ia sebut sebagai “Daddy”, adalah sosok yang memiliki segalanya, kecuali waktu dan kasih sayang yang tulus di rumahnya yang megah.

Uang bulanan setara gaji manajer senior, akses ke pergaulan jetset, hingga liburan ke luar negeri.  Ketersediaan waktu 24/7.

“Saya harus ada saat dia butuh pelarian. Entah itu sekadar teman bicara setelah rapat melelahkan, atau lebih dari itu,” ungkap Mawar tanpa ragu.

Mawar mengaku, bagian tersulit bukanlah melayani sang pria, melainkan menjaga “topeng” di hadapan keluarga di kampung halaman. Di sana, ia dikenal sebagai anak kebanggaan yang sukses bekerja di perusahaan multinasional.

Ada harga mahal di balik kemewahan yang ia pamerkan di Instagram. Mawar seringkali terjebak dalam kesepian yang akut saat sang pria kembali ke pelukan istri sahnya. Di unit apartemen lantai 30 itu, ia hanya ditemani bayangannya sendiri dan rasa cemas akan masa depan.

“Saya tahu ini ada masa kedaluwarsanya. Kecantikan itu memudar, dan di Jakarta, selalu ada gadis yang lebih muda, lebih cantik, dan lebih ‘lapar’ dari saya.”

Mengapa tidak berhenti? Jawabannya sederhana namun getir,  Candu.

Mawar sudah terlalu terbiasa dengan standar hidup kelas atas. Baginya, kembali ke hidup sederhana sebagai karyawan biasa dengan gaji UMR adalah sebuah horor yang lebih menakutkan daripada status “simpanan”.

Jakarta malam itu tetap bising, namun bagi Mawar, kebisingan itu adalah musik yang menutupi jeritan hati kecilnya yang merindukan kebebasan tanpa syarat. (red)

Polling Lainnya di Sulawesi Tenggara
Lihat Semua Polling →
Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Polling aktif
Ikut Polling →
dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM
Kota Kendari
Polling aktif
Ikut Polling →
Yusran Akbar
Kabupaten Konawe
Polling aktif
Ikut Polling →
La Ode Darwin
Kabupaten Muna Barat
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Amri Jamaluddin, S.STP., M.Si.
Kabupaten Kolaka
Polling aktif
Ikut Polling →
Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si
Kabupaten Konawe Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Rifqi Saifullah Razak, S.T.
Kabupaten Konawe Kepulauan
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H.
Kabupaten Kolaka Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Bachrun, M.Si
Kabupaten Muna
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Muhammad Adios, S.Sos
Kabupaten Buton Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si
Kabupaten Buton Tengah
Polling aktif
Ikut Polling →
Alvin Akawijaya Putra, S.H.
Kabupaten Buton
Polling aktif
Ikut Polling →
Afirudin Mathara, S.H., M.H.
Kabupaten Buton Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Ir. H. Burhanuddin, M.Si.
Kabupaten Bombana
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Haliana, S.E.
Kabupaten Wakatobi
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yusran Fahim, S.E.
Kota Baubau
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Ikbar, S.H., M.H.
Kabupaten Konawe Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd
Kabupaten Kolaka Timur
Polling aktif
Ikut Polling →
9 / 100 Skor SEO