KENDARI – Eskalasi perang terbuka antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran kini bukan sekedar isu keamanan, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Konflik ini telah memicu penayangan harga minyak dunia mengingat posisi strategis Iran sebagai produsen 5% minyak mentah dunia dan penguasa Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Bloomberg Economics (1/3/2026), harga minyak mentah yang pada 27 Februari masih berada di level AS $72,48 per barel, diprediksi bisa melonjak drastis hingga US$108 per barel jika skenario ekstrem penutupan Selat Hormuz benar-benar terjadi.
Direktur senior perusahaan riset energi Kpler, Jean-Charles Gordon, mencatat gangguan navigasi massal terhadap ribuan kapal sejak Jumat lalu. Perangkat pengacau ( spoofers ) tingkat militer membuat sistem navigasi kapal menunjukkan posisi yang salah.
“Lintang dan bujur yang mereka terima benar-benar salah,” ujar Gordon. Kondisi ini meningkatkan premi risiko di pasar energi dan menjamin lancarnya distribusi 20% aliran minyak global yang melewati jalur sempit tersebut.
Indonesia diprediksi tidak akan mengalami guncangan terhadap guncangan ini. Sektor riil yang masih lesu dan ketergantungan pada arus modal asing membuat struktur ekonomi nasional rentan. Sejarah mencatat, sensitivitas Rupiah terhadap sentimen energi sangat tinggi.
Sebagai perbandingan, kejadian di Selat Hormuz tahun lalu sempat membuat Rupiah terkerek ke level Rp16.485/US$ hanya dalam hitungan hari.
Jika harga minyak menyentuh US$108, guncangan stagflasi ringan diprediksi akan menghantam pasar domestik: inflasi energi naik, biaya logistik membengkak, dan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang ( capital outflow ).
Meski dibayangi pesimisme, analis menilai Indonesia masih memiliki “bantalan” melalui cadangan devisa yang memadai dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Selain itu, potensi peningkatan harga komoditas lain seperti batu bara yang biasanya mengekor harga minyak dapat menjadi penyeimbang ekspor migas.

Namun, pelaku pasar kini mulai menyalakan alarm risk-off dan melakukan repricing terhadap risiko kawasan yang kian tidak menuntaskan. (red)


Tinggalkan Balasan