Ekobis

Gapoktan Mepokoaso Catat Produksi Gabah 642,6 Ton, Dorong Konsel Jadi Model Peningkatan Hasil Sultra

715
×

Gapoktan Mepokoaso Catat Produksi Gabah 642,6 Ton, Dorong Konsel Jadi Model Peningkatan Hasil Sultra

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra saat ini adalah Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si

KONAWE SELATAN Kelompok Tani (Gapoktan) Mepokoaso di Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, menorehkan capaian signifikan dalam panen raya padi kedua tahun 2024, Minggu 26 Oktober 2025.

Panen yang melibatkan tujuh kelompok tani (Poktan) di atas total lahan 153 hektare ini berhasil menghasilkan 642,6 ton gabah, memperkuat posisi Desa Lebo Jaya sebagai salah satu lumbung pangan lokal di Konsel.

Angka ini didapat dari estimasi produktivitas rata-rata lahan sebesar 4,2 ton per hektare.

Capaian ini diapresiasi langsung oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si., yang hadir dalam puncak acara panen raya.

Turut hadir Kepala Dinas Pertanian Konsel, Kepala Dinas Perhubungan Konsel, Kapolsek Konda, serta antusiasme tinggi dari masyarakat setempat.

Prof. Taufik menyoroti peningkatan hasil yang sangat luar biasa. “Produktivitasnya sudah mencapai 4,6 ton per hektare di titik tertentu. Ini peningkatan yang sangat luar biasa, dari yang sebelumnya hanya di kisaran 2 koma ton per hektare,” ujar Taufik.

Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan efektivitas intensifikasi dan pendampingan yang berfokus pada perbaikan kualitas benih dan penerapan sistem tanam yang tepat, seperti Legowo, yang telah dirintis sejak lama.

Di balik kesuksesan panen raya kedua, petani di Gapoktan Mepokoaso masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait ketersediaan air.

Lahan persawahan seluas 153 hektare yang dikelola tujuh kelompok tani tersebut mayoritas masih merupakan tanah tadah hujan.

“Kondisi air di sini belum mampu mendukung tanam padi setahun penuh. Petani hanya bisa tanam maksimal dua kali setahun karena pasokan air sangat bergantung pada curah hujan,” terang perwakilan petani.

Kendala irigasi yang belum memadai ini menjadi fokus utama Gapoktan dan Pemerintah Desa agar produksi padi bisa ditingkatkan menjadi tiga kali tanam (Indeks Pertanaman 300/IP 300) dalam setahun, sehingga ketahanan pangan di Konawe Selatan bisa semakin terjamin.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Taufik memaparkan masalah krusial di Sultra terkait infrastruktur irigasi. Ia mendesak percepatan pembangunan jaringan irigasi tersier di seluruh wilayah sentra padi.

Meskipun Balai Wilayah Sungai (BWS) telah membangun infrastruktur primer dan sekunder untuk mengairi sekitar 60.000 hektare lahan, Prof. Taufik mengungkapkan bahwa masih ada sekitar 20.000 hektare sawah yang belum terlayani karena ketiadaan saluran tersier.

“Tugas kami di Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan adalah membangun jalur irigasi tersier. Kami tidak punya tugas untuk pembangunan bendungan, saluran primer, apalagi saluran sekunder. Itu adalah tugas dan kewenangan BWS dari Kementerian PUPR,” jelas Prof. Taufik.

Data yang dipaparkan Prof. Taufik menunjukkan urgensi masalah ini dari total target 60.000 hektare sawah yang dialiri oleh saluran sekunder BWS, yang sudah terkoneksi penuh dengan saluran tersier baru sekitar 40.000 hektare.

“Masih ada sekitar 20.000 hektare yang belum ada saluran tersiernya. Padahal airnya sudah siap di saluran sekunder,” tegasnya.

Dampak langsung dari ketiadaan saluran tersier ini adalah rendahnya Indeks Penanaman (IP). Prof. Taufik menyebutkan bahwa IP rata-rata Sultra saat ini masih berada di angka 1,8.

“Sawah kita itu rupanya masih banyak yang villa Italia (tadah hujan), tidak ada yang benar-benar terairi teknis. Artinya, kita masih menanam satu kali setahun. Ini yang membuat kita belum masuk ke IP 2,0 apalagi 3,0. Padahal daerah lain sudah menuju dua ke tiga kali tanam,” jelasnya.

Menurutnya, pembangunan saluran tersier adalah kunci untuk menaikkan IP menjadi minimal 2,0 (dua kali tanam setahun), yang akan secara signifikan meningkatkan produksi pangan daerah.

Keberhasilan Gapoktan Mepokoaso ini, kata Prof. Taufik, menjadi momentum penting untuk memacu semangat Sultra dalam mencapai target produksi padi tahunan sebesar 1 juta ton, mengingat saat ini Sultra masih tertinggal dengan produksi 540.000 ton per tahun.

Untuk mendukung target ini, Distan Sultra memprioritaskan Program Benih Mandiri serta penanganan kondisi tanah melalui bantuan Dolomit.

“Kami menekankan pentingnya bantuan Dolomit. Sebagian besar tanah kita pH-nya rendah, dan Dolomit adalah kunci untuk menaikkan pH yang otomatis mendongkrak produktivitas,” papar Prof. Taufik.

Kepala Desa Lebo Jaya, Syarifuddin, mendesak agar kunjungan pejabat dapat mempercepat pembangunan jaringan irigasi permanen. Para petani berharap ada intervensi dari pemerintah daerah maupun pusat untuk pembangunan infrastruktur irigasi, khususnya embung atau dam kecil.

Lebih lanjut, Syarifuddin menjelaskan bahwa pihaknya berharap pemerintah daerah dapat mengusulkan kepada Balai Sungai agar dapat membangun bendungan lokal, mencontoh Bendungan Ladongi di Kolaka Timur, didukung potensi sumber daya air yang tersedia dari Sungai Wanggu dan Sungai Lamomea.

Menutup keterangannya, Prof. Taufik secara khusus meminta dukungan kepada para Bupati dan Bappeda.

“Kami mohon bantuan teman-teman media agar menginformasikan ke Bupati atau Bappeda bahwa masih banyak saluran tersier yang dibutuhkan untuk menyambungkan dari saluran sekunder ke tersier. Kami sangat butuh dukungan,” tutupnya, menekankan bahwa tanpa saluran tersier, air yang sudah disiapkan BWS tidak akan sampai ke petak sawah petani. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!