KENDARI – Industri pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara kini tidak lagi hanya soal seberapa banyak bijih yang dikeruk, melainkan seberapa hijau lahan yang ditinggalkan.
Hal ini ditegaskan oleh pakar pertambangan sekaligus CEO PT Agricola Nusantara Baramineral (ANB), Rezki Syahrir, S.T., S.I.P., M.B.A., M.Sc., Ph.D.. dalam pelatihan intensif
yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sultra bersama Inspektur Tambang ESDM, CV Unahaa Bakti Persada dan PT Agricola Nusantara Baramineral (ANB) baru saja menggelar pelatihan krusial di Kendari, Selasa (3/2/2026).
Pesannya jelas, Reklamasi bukan lagi beban, tapi tiket emas menuju nikel rendah karbon.
Rezki Syahrir menekankan bahwa wajah industri nikel RI harus berubah total demi menjaga relevansi di pasar global.
Menurutnya, reklamasi bukan lagi sekadar beban biaya atau kewajiban administratif untuk menanam pohon, melainkan “tiket emas” bagi produk nikel Indonesia untuk menembus pasar internasional yang kini sangat ketat terhadap isu lingkungan dan dekarbonisasi.
Satu masalah krusial yang disorot Rezki adalah fenomena kelangkaan tanah pucuk (topsoil) di lokasi tambang.
Tanpa tanah yang subur, proses pemulihan lahan sering kali berakhir gagal dan menjadi pemborosan biaya.

Sebagai solusinya, Rezki memperkenalkan teknologi BioRehab.
Inovasi ini menggunakan pengayaan mikroorganisme tanah dan biochar untuk merekayasa media tumbuh secara biologis, sehingga perusahaan tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada ketersediaan topsoil yang kian langka.
Tak hanya soal estetika hijau, Rezki membedah potensi ekonomi baru dari reklamasi, yakni melalui skema kredit karbon.
Berdasarkan data operasionalnya, teknologi BioRehab di lahan seluas 54 hektare mampu memberikan manfaat karbon hingga 1.390 ton CO2e.
Angka ini sangat signifikan bagi perusahaan yang ingin mengklaim produk mereka sebagai “Low Carbon Nickel”, sebuah syarat mutlak untuk masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik di Eropa dan Amerika Serikat.
Analisis Rezki juga mengungkap bahwa emisi terbesar dalam produksi nikel laterit justru berasal dari perubahan penggunaan lahan (land use change) yang menyumbang hingga 40% emisi hulu.
Dengan melakukan reklamasi yang profesional dan terukur, perusahaan bisa memangkas jejak karbon tersebut secara drastis.
Baginya, langkah ini merupakan bentuk nyata dekarbonisasi yang dimulai langsung dari pemulihan lahan pascatambang.
Terkait aspek finansial, Rezki menawarkan strategi efisiensi bagi pengusaha tambang melalui skema kemitraan teknologi yang fleksibel.
Ia mengingatkan bahwa kegagalan reklamasi bukan hanya merusak alam, tapi juga mengancam likuiditas perusahaan karena dana Jaminan Reklamasi (Jamrek) yang tertahan dan risiko terhambatnya persetujuan RKAB tahunan sesuai aturan terbaru dalam Kepmen ESDM Nomor 344.K/2025.
Pelatihan yang dihadiri oleh para Kepala Teknik Tambang (KTT) se-Sultra ini menjadi panggung bagi Rezki untuk mendorong perubahan paradigma industri.
Baginya, misi utama para pelaku tambang saat ini adalah beralih dari sekadar mengeksplorasi (explore) menuju pemulihan total (restore).
Dengan sinergi antara teknologi tepat guna dan kepatuhan regulasi, Rezki optimis nikel Sultra dapat memimpin pasar nikel hijau dunia. (red)


Tinggalkan Balasan