KENDARI – Aktivitas pertambangan PT Vale Indonesia di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, kembali mendapat sorotan tajam.

Banjir yang rutin melanda sawah di Desa Oko-Oko menjadi simbol nyata risiko yang ditimbulkan oleh ekspansi tambang di kawasan hulu, sekaligus mempertanyakan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.

Pelaksana Tugas Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Muh. Taufik, menegaskan bantuan pupuk yang diberikan perusahaan kepada petani terdampak hanyalah solusi sementara.

“Bicara tentang banjir, solusinya bukan pupuk, meskipun ada dampaknya. Kami sarankan agar persawahan benar-benar dilindungi secara permanen,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Sultra, Selasa (10/3/2026).

RDP digelar menindaklanjuti aspirasi Pemuda Tani Indonesia Sultra terkait dugaan penyerobotan lahan dan pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan PT Vale.

Fakta lapangan menunjukkan setidaknya 14 hektar sawah di Desa Oko-Oko kini rutin terendam banjir, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelum pembukaan lahan di hulu DAS.

Taufik menyoroti keberlangsungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang menjadi korban langsung ekspansi tambang.

“Jika pola kerusakan lingkungan di Oko-Oko terus berulang, target Gerakan Satu Juta Ton padi akan sulit tercapai. Kami sangat berkepentingan agar pihak mining mempertimbangkan keberadaan lahan-lahan LP2B kita,” ujarnya.

Pembukaan lahan tidak hanya menimbulkan banjir, tetapi juga merusak ekosistem sungai yang menjadi penopang irigasi sawah.

Data Dinas Tanaman Pangan menunjukkan bahwa intensitas rendaman sawah meningkat seiring meluasnya bukaan lahan di area tambang.

Tanggung Jawab yang Dipertanyakan
Muh. Taufik mendorong PT Vale untuk ikut bertanggung jawab dalam mitigasi banjir dengan memperbaiki saluran primer dan sekunder di sekitar area terdampak.

Meski secara administratif kewenangan ada pada Balai Wilayah Sungai (BWS), keterlibatan perusahaan dianggap krusial.

“Ketika bukaan lahan semakin luas, kawasan yang terendam juga semakin bertambah. Tolong PT Vale betul-betul memperhatikan daerah aliran sungai,” tegasnya.

Sementara itu, masyarakat petani menilai langkah perusahaan masih jauh dari cukup.

Bantuan pupuk dianggap simbolis dan tidak menyelesaikan persoalan banjir yang menggerus mata pencaharian mereka.

Industri pertambangan yang tumbuh pesat harus diseimbangkan dengan keberlanjutan sektor pertanian.

Tanpa langkah mitigasi serius dari PT Vale, ambisi Sultra menjadi lumbung pangan nasional terancam tergilas banjir yang kini merendam sawah-sawah Kolaka. (red)

22 / 100 Skor SEO