Baubau, – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi kreatif, Sulawesi Tenggara (Sultra) tak mau ketinggalan. Memahami dinamika dan potensi besar sektor ini, Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sultra mengambil langkah strategis dengan menggenjot sistem informasi ekonomi kreatif di wilayah kepulauan. Sebuah langkah visioner yang diharapkan mampu menjadi tulang punggung bagi inovasi dan kolaborasi pelaku ekonomi kreatif di Bumi Anoa.
Bertempat di Hotel Zenith Baubau, sebuah Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Aktivasi Dashboard Aplikasi Sistem Informasi Produk Kreatif Sultra Tahap II” digelar sejak 24 hingga 26 Juli 2025.
Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah inisiatif vital yang merangkul berbagai pemangku kepentingan. Perwakilan pemerintah daerah dari seluruh wilayah kepulauan, mulai dari Kota Baubau, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Wakatobi, Muna, Muna Barat, hingga Kabupaten Buton, hadir memenuhi undangan. Tak hanya itu, komunitas dan para pelaku ekonomi kreatif di masing-masing daerah turut serta, menunjukkan komitmen kolektif untuk memajukan sektor ini.
Ekonomi kreatif adalah sebuah lanskap yang kompleks dan senantiasa beradaptasi dengan tren zaman. Pengembangannya sangat bergantung pada komitmen dan sinergi antara pemerintah, lintas sektoral, dan tentu saja, para pelaku industri kreatif itu sendiri. Di sinilah peran penting kolaborasi heksahelix—melibatkan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media—menjadi krusial.
Rafiuddin, dari Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Provinsi Sultra, menjelaskan bahwa Bimtek ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah dilaksanakan di daratan Kendari. “Ini merupakan tahap II. Pada tahap I dilaksanakan di daratan Kendari,” ungkapnya pada Jumat, 25 Juli 2025.
Menurut Rafiuddin, tujuan utama dari Bimtek ini adalah membekali para peserta, yang mengampu bidang ekonomi kreatif di kabupaten/kota kepulauan, agar menjadi wali data bagi sistem informasi ekonomi kreatif.
“Untuk menjawab tantangan [manajemen data] itu, kita buat sistem ini, yang akan menjadi alat kerja bersama yang ada di Kabupaten/Kota, menjadi alat kerja untuk menginput dan menganalisis pergerakan data,” jelas Rafiuddin.
Sistem ini dirancang untuk memungkinkan Dispar Provinsi Sultra memantau pergerakan dan pengembangan ekonomi kreatif di seluruh kabupaten/kota Sultra melalui platform yang sama.
Dengan data yang terhimpun, berbagai informasi krusial dapat diakses: profil pelaku industri di masing-masing daerah, sejauh mana pengembangan ekosistem ekonomi kreatif, hingga kebutuhan riil yang dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan dan program.
“Maka program yang dianggap penting untuk dilakukan, yang mendukung ekonomi kreatif daerah, adalah sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya,” ujarnya. Hal serupa juga berlaku bagi program-program di tingkat provinsi, yang dapat menjadikan dashboard ini sebagai rujukan utama.
Dashboard ini tidak hanya berfokus pada profil dan ekosistem, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai fitur informatif lainnya. Mulai dari etalase produk, yang memungkinkan pelaku kreatif menampilkan karya-karya mereka, hingga ruang kreatif di Sultra, yang mungkin menjadi direktori atau platform interaksi. Tak ketinggalan, kalender event yang sifatnya informatif juga tersedia, memudahkan koordinasi dan promosi kegiatan-kegiatan kreatif.
Harapannya, alat kerja ini dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan semaksimal mungkin oleh pemerintah kabupaten/kota, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif. “Sehingga terkoleksi data, agar dapat dilihat seperti apa kondisinya untuk dilakukan intervensi pengembangannya,” kata Rafiuddin.
Inisiatif Dispar Sultra ini disambut positif oleh perwakilan kabupaten/kota maupun pelaku ekonomi kreatif. Hamrina, Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Wakatobi, mengungkapkan rasa syukurnya. “Kami sangat terbantu sekali, sehingga datanya bisa lebih valid, dan bisa ditampilkan, apalagi sebelumnya kami masih melakukan data manual,” ujarnya, menyoroti efisiensi yang ditawarkan sistem ini.
Senada dengan itu, Hasnawati Ladia, Kabid Pengembangan Sumber Daya Dinas Pariwisata Buton Utara, merasa sangat terbantu, terutama dalam penyusunan rencana jangka kerja menengah yang kini dapat berbasis data, bukan lagi asumsi semata. “Semoga pengembangannya output dashboard ini, bisa menjabarkan tentang kontribusi ekonomi kreatif pada PDRB, namun ini baru tingkat kemapanan, namun ini akan berproses,” harapnya, menunjukkan pandangan ke depan yang optimis.
Dari sisi pelaku ekonomi kreatif, Irwandi Hayudin dari Wuna Kreatif (Kabupaten Muna) dan Aris dari Galeri Gora (Kota Baubau) juga merasakan manfaatnya. Bagi Irwandi, sistem ini mengimplementasikan konsep dari “kata menjadi data,” yang menjadi dasar kuat untuk merancang program daerah. “Dengan begini, bisa sejalan dengan peraturan pemerintah yang ada di ekonomi kreatif, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian di daerah khususnya Kabupaten Muna,” tambahnya.
Sementara itu, Aris dari Galeri Gora sangat terbantu, khususnya dalam memahami data pelaku kriya dan seni rupa di Kota Baubau. “Semoga ke depan Dinas Pariwisata Sultra dapat merangkul para ekonomi kreatif, khususnya di Kota Baubau,” tutupnya, memberikan harapan akan dukungan berkelanjutan.
Dengan langkah konkret ini, Dispar Sultra bukan hanya sekadar mengumpulkan data, tetapi membangun fondasi kokoh bagi ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terintegrasi, terencana, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya di kepulauan yang kaya akan potensi. Masa depan ekonomi kreatif Sultra kini semakin cerah, ditopang oleh data yang valid dan kolaborasi yang kuat. **