MAKASSAR, – Di tengah hiruk-pikuk jagat maya, sebuah fenomena yang kian mengemuka adalah tendensi sebagian netizen untuk melontarkan kritik keras, bukan semata demi perbaikan, melainkan sebagai jalan pintas untuk tampil intelektual dan diakui cerdas. Ironisnya, ambisi ini seringkali justru mengaburkan esensi kritik yang konstruktif dan menciptakan lingkungan digital yang kurang sehat.

Fenomena ini sejatinya berakar dari kebutuhan dasar manusia akan pengakuan dan validasi. Di era digital, media sosial menjadi panggung utama bagi banyak individu untuk menunjukkan eksistensi diri. Bagi sebagian netizen, kemampuan mengkritik dengan tajam dan lugas dianggap sebagai tolok ukur kecerdasan dan kedalaman berpikir. Mereka mungkin merasa bahwa dengan menemukan celah dan menunjukkan kesalahan, mereka secara otomatis menempatkan diri pada posisi yang lebih superior secara intelektual.

Namun, yang sering terjadi adalah kritik ini bergeser menjadi serangan personal atau upaya mendominasi percakapan, alih-alih memicu dialog yang berarti. Ketika motivasi utama adalah untuk “terlihat pintar,” fokus pada solusi dan empati terhadap pihak yang dikritik seringkali terabaikan. Ini berujung pada polaritas yang semakin tajam di ruang digital, di mana debat sehat sulit terwujud karena setiap pihak sibuk mempertahankan citra intelektualnya sendiri.

Penting untuk disadari bahwa intelektualitas sejati tidak diukur dari seberapa keras seseorang mengkritik, melainkan dari kedalaman pemikiran, kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara runut, serta keberanian untuk mencari solusi kolaboratif. Kritik yang membangun selalu disertai dengan niat baik dan pemahaman bahwa tujuan utamanya adalah perbaikan, bukan pengakuan semu.

Maka, sudah saatnya bagi kita, sebagai pengguna aktif ruang digital, untuk merenungkan kembali motivasi di balik setiap kritik yang kita lontarkan. Apakah kita sedang berusaha membangun atau sekadar membangun citra diri sebagai sosok yang cerdas dan berwawasan? Kesadaran ini adalah langkah awal menuju budaya kritik yang lebih dewasa dan produktif di dunia maya. (red)

Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Polling aktif
Ikut Polling →
dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM
Kota Kendari
Polling aktif
Ikut Polling →
Yusran Akbar
Kabupaten Konawe
Polling aktif
Ikut Polling →
La Ode Darwin
Kabupaten Muna Barat
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Amri Jamaluddin, S.STP., M.Si.
Kabupaten Kolaka
Polling aktif
Ikut Polling →
Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si
Kabupaten Konawe Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Rifqi Saifullah Razak, S.T.
Kabupaten Konawe Kepulauan
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H.
Kabupaten Kolaka Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Bachrun, M.Si
Kabupaten Muna
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Muhammad Adios, S.Sos
Kabupaten Buton Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si
Kabupaten Buton Tengah
Polling aktif
Ikut Polling →
Alvin Akawijaya Putra, S.H.
Kabupaten Buton
Polling aktif
Ikut Polling →
Afirudin Mathara, S.H., M.H.
Kabupaten Buton Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Ir. H. Burhanuddin, M.Si.
Kabupaten Bombana
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Haliana, S.E.
Kabupaten Wakatobi
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yusran Fahim, S.E.
Kota Baubau
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Ikbar, S.H., M.H.
Kabupaten Konawe Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd
Kabupaten Kolaka Timur
Polling aktif
Ikut Polling →
15 / 100 Skor SEO