JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian tak terbendung. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4), mata uang Garuda mencatatkan rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah, menembus level psikologis baru di angka Rp17.105 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data pasar spot, rupiah melemah sebesar Rp70 atau sekitar 0,41% dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan hebat bahkan sempat menyeret rupiah menyentuh titik terendahnya di level Rp17.119 per dolar AS pada pukul 14.22 WIB, sebelum akhirnya ditutup sedikit menguat di atas angka tersebut.

Kondisi serupa terjadi pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Mata uang nasional tersebut terkoreksi Rp55 atau 0,32%, yang menempatkan posisi rupiah di level Rp17.092 per dolar AS.

Pelemahan tajam ini tidak lepas dari meluasnya sikap kehati-hatian investor di tengah situasi global yang kian memanas akibat eskalasi perang yang terus berlanjut. Ketidakpastian geopolitik memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan sejumlah mata uang regional Asia. Peso Filipina tercatat memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 0,46%, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,09%, dan ringgit Malaysia sebesar 0,04%.

Namun, menariknya, indeks dolar AS (DXY) justru menunjukkan tren melemah dalam dua hari berturut-turut ke level 99,87. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski kekuatan the greenback secara global sedikit melandai, sentimen risiko di kawasan Asia tetap tinggi, sehingga investor lebih memilih aset aman (safe haven) di luar mata uang regional tertentu.

Di tengah keterpurukan rupiah, beberapa mata uang Asia lainnya justru mampu menunjukkan resiliensi. Won Korea memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan sebesar 0,67%, diikuti yuan China sebesar 0,31%, serta baht Thailand dan dolar Singapura yang masing-masing menguat tipis.

Situasi rupiah yang menyentuh level terlemah sepanjang masa ini menjadi tantangan berat bagi otoritas moneter dalam menjaga stabilitas inflasi dan beban utang luar negeri. Para pelaku pasar kini menanti langkah intervensi Bank Indonesia guna meredam volatilitas yang kian liar di tengah kecamuk perang global. (red)

12 / 100 Skor SEO