Oleh: Muhammad Ikhsan – Perdetiknews.com
Ada saat dalam hidup ketika seseorang berhenti mengejar dunia bukan karena lelah, tetapi karena ia telah sampai pada satu titik yang jarang dicapai banyak orang, yakni merasa cukup.
Di titik itulah, seorang pemimpin tidak lagi sibuk menghitung apa yang bisa ia ambil dari jabatannya.
Ia justru mulai bertanya, apa lagi yang bisa ia berikan. Di tengah riuhnya ambisi dan gemerlap kekuasaan, kehadiran sosok seperti Mayjen TNI (purn) Andi Sumangerukka menjadi seperti oase tenang, tidak banyak bicara, tetapi memberi kehidupan.

Ia tidak datang membawa janji yang berisik, melainkan keteladanan yang sunyi. Sebuah pengingat bahwa kekuasaan sejatinya bukan tentang memiliki, tetapi tentang melepaskan.
Di tengah politik yang kerap berubah menjadi panggung transaksi, ketika jabatan sering dipandang sebagai investasi yang harus “kembali modal”, ASR sapaan akarab Andi Sumangerukka yang justru berjalan ke arah sebaliknya.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, seperti menolak ikut dalam arus besar itu. Ia memilih diam, bekerja, dan memberi tanpa banyak meminta.

Kita mungkin sudah terlalu terbiasa melihat kekuasaan sebagai privilese. Gaji, fasilitas, operasional, hingga berbagai “hak tambahan” dianggap wajar untuk dinikmati.
Bahkan, dalam banyak kasus, itu belum cukup. Masih ada “jalan lain” yang dicari yang sering kali menggerogoti kepercayaan publik.

Namun di sini, kita melihat hal yang berbeda.
Seorang pemimpin yang memilih tidak mengambil gajinya. Bukan karena tidak berhak, tapi karena merasa tidak perlu.
Sebuah keputusan yang mungkin terdengar sederhana, tapi sejatinya mengguncang logika umum kita tentang kekuasaan.
Lebih jauh lagi, ketika banyak proyek pembangunan dibayangi praktik “fee”, ia justru menutup pintu itu rapat-rapat. Bagi Andi Sumangerukka, pembangunan bukan ruang transaksi, melainkan amanah. Jalan yang dibangun harus benar-benar untuk rakyat, bukan untuk mengisi kantong segelintir orang.
Di titik ini, kita patut bertanya, mengapa sikap seperti ini terasa begitu istimewa, bahkan nyaris tidak biasa?
Jawabannya sederhana, tapi menyakitkan karena kita terlalu sering melihat kebalikannya.
Kita hidup dalam realitas di mana integritas sering menjadi barang mahal. Ketulusan dianggap naif. Dan pengabdian, kerap kalah oleh kepentingan pribadi.
Maka ketika ada seorang pemimpin yang tampak “selesai dengan dirinya sendiri” yang tidak lagi sibuk mengejar apa yang bisa diambil dari jabatan kita seperti melihat harapan yang lama hilang.
Selesai dengan dirinya sendiri berarti ia tidak lagi diperbudak oleh ambisi pribadi. Tidak terjebak pada kebutuhan untuk mengumpulkan, menimbun, atau memamerkan.

Ia telah menempatkan pengabdian sebagai tujuan, bukan alat.
Dan di situlah letak kekuatannya.
Kepemimpinan seperti ini tidak hanya membangun jalan, jembatan, atau gedung. Ia membangun kepercayaan.
Ia menghidupkan kembali keyakinan bahwa kekuasaan masih bisa bersih. Bahwa jabatan masih bisa suci.
Barangkali dunia tidak selalu membutuhkan pemimpin yang paling hebat, paling kuat, atau paling berkuasa.
Dunia hanya butuh lebih banyak pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri yang tidak lagi lapar akan pujian, tidak lagi haus akan keuntungan.
Karena dari hati yang telah “cukup”, lahirlah pengabdian yang tidak bersyarat.
Dan dari pengabdian yang tulus itulah, kepercayaan tumbuh, harapan hidup, dan masa depan perlahan menemukan jalannya.
Semoga langkah-langkah sunyi seperti ini tidak pernah berhenti.
Karena di situlah, kita kembali percaya bahwa kebaikan itu masih ada, dan masih memimpin.











Tinggalkan Balasan