TEHERAN, – Dalam laporan yang dikutip Rabu (11/3/2026), disebutkan bahwa militer AS mulai kewalahan menghadapi intensitas serangan balasan Iran.
Salah satu indikasinya adalah keputusan Washington memindahkan sebagian sistem pertahanan udara canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah.
Langkah tersebut diambil untuk memperkuat pertahanan terhadap serangan rudal balistik dan drone Iran yang menyasar pangkalan militer AS serta sekutunya di kawasan.
Selain THAAD, Pentagon juga disebut menarik rudal pencegat dari sistem pertahanan udara Patriot yang ditempatkan di beberapa wilayah lain, termasuk kawasan Indo-Pasifik, guna memperkuat pertahanan di Timur Tengah.
Konflik Memanas Sejak Serangan ke Teheran
Perang ini disebut pecah pada 28 Februari setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Teheran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangkaian serangan besar, termasuk pemboman ke kota Tel Aviv dan Yerusalem, serangan ke pangkalan militer AS di negara-negara Arab, hingga penutupan jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Iran juga dilaporkan menyerang berbagai fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.
Radar THAAD Diklaim Dihancurkan
Militer Iran mengklaim berhasil menghancurkan sedikitnya empat radar sistem THAAD di berbagai pangkalan militer di kawasan.
Salah satu yang disebut terkena serangan adalah Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa Washington kini berupaya mengganti radar THAAD yang rusak akibat serangan drone tersebut.
THAAD sendiri merupakan sistem pertahanan penting yang dirancang untuk mencegat rudal balistik berkecepatan tinggi pada fase akhir penerbangan.
Pemindahan sistem pertahanan dari Korea Selatan memicu kekhawatiran di Seoul.
Presiden Lee Jae Myung mengatakan pemerintahnya telah menyatakan penolakan terhadap langkah tersebut karena berpotensi melemahkan pertahanan terhadap ancaman dari Korea Utara.
Meski demikian, Lee mengakui Seoul tidak dapat sepenuhnya memaksakan keputusannya terhadap militer AS.
Saat ini, hampir 30.000 tentara Amerika ditempatkan di Korea Selatan untuk membantu pertahanan negara itu jika terjadi konflik dengan Korea Utara.
Secara teknis, Korea Selatan dan Korea Utara masih berada dalam kondisi perang sejak berakhirnya Perang Korea pada 1953 yang hanya dihentikan melalui perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Di tengah situasi tersebut, hubungan kedua Korea kembali memanas setelah pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menolak berbagai upaya deeskalasi yang diusulkan Seoul. (red)


Tinggalkan Balasan