KOLAKA – Laju inflasi di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, kian menunjukkan tren mengkhawatirkan pada awal tahun 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Ade Ida Mane, SST, M.Si., mencatat, inflasi tahunan (year-on-year) di Bumi Mekongga tersebut menembus angka 7,77 persen pada Februari 2026.

Angka ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kepala BPS Kabupaten Kolaka dalam laporannya menyebutkan bahwa kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,62 pada Februari tahun lalu menjadi 113,83 pada tahun ini dipicu oleh lonjakan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.

Tercatat, sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran masyarakat mengalami kenaikan indeks secara signifikan.

Sektor Perumahan Jadi Pemicu Utama

Lonjakan inflasi yang tajam ini didominasi oleh kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang meroket hingga 34,04 persen.

Sektor ini pula yang menyumbang andil inflasi terbesar, yakni mencapai 2,89 persen.

Selain beban biaya tempat tinggal, masyarakat juga dihantam oleh kenaikan di sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 31,84 persen dengan andil inflasi sebesar 2,74 persen.

Sementara itu, kebutuhan dasar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat naik 5,29 persen, memberikan andil 1,90 persen terhadap total inflasi tahunan.

Kenaikan harga lainnya juga terjadi pada:

  • Kelompok Pendidikan: Naik 2,45 persen.

  • Kelompok Restoran: Naik 1,82 persen.

  • Kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya: Naik 1,47 persen.

  • Kelompok Pakaian dan Alas Kaki: Naik 0,71 persen.

Tren Peningkatan dalam Tiga Bulan Terakhir

Data BPS menunjukkan adanya tren pendakian yang curam dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

Pada Desember 2025, inflasi Kolaka masih berada di level 3,45 persen, namun melonjak drastis menjadi 6,75 persen pada Januari 2026, hingga mencapai titik tertingginya di angka 7,77 persen pada Februari ini.

Secara bulanan (month-to-month), Kabupaten Kolaka mengalami inflasi sebesar 1,05 persen dibandingkan Januari 2026.

Sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) tercatat sudah menyentuh angka 2,88 persen.

Kesehatan dan Komunikasi Mengalami Deflasi

Di tengah kenaikan harga yang masif, kelompok kesehatan justru tercatat mengalami deflasi sebesar 2,08 persen dengan andil -0,06 persen.

Hal serupa terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun tipis 0,63 persen dengan andil -0,05 persen.

Meski terdapat penurunan di dua sektor tersebut, daya beli masyarakat secara keseluruhan tetap tertekan akibat lonjakan tajam pada kebutuhan primer seperti energi, perumahan, dan bahan pangan.

Kondisi ini menuntut langkah taktis dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Kolaka untuk menekan laju harga di pasar agar tidak kian membebani warga. (red)

14 / 100 Skor SEO