BEIRUT, KOMPAS — Konflik bersenjata di wilayah perbatasan Lebanon dan Israel semakin tidak terkendali. Hizbullah mengumumkan telah melancarkan serangkaian strategi serangan, termasuk menargetkan stasiun komunikasi satelit milik Divisi Pertahanan Siber militer Israel serta menghantam Pangkalan Ramla di tenggara Tel Aviv menggunakan rudal berkualitas tinggi, Senin (9/3/2026).

Pernyataan resmi Hizbullah menyebutkan bahwa para pejuangnya juga berhasil memukul mundur operasi mendeteksi infanteri militer Israel yang menggunakan helikopter di wilayah Lebanon Timur. Di pinggiran kota Markaba, penggunaan rudal berpemandu dilaporkan telah menghancurkan satu unit buldoser dan dua kendaraan militer Israel.

Sejak tengah malam 2 Maret, pola serangan telah berubah menjadi lebih masif. Hizbullah mulai mengarahkan penyewaan rudal dan drone ke situs militer di selatan Haifa, serta pemukiman di Nahariya dan Kiryat Shmona. Langkah ini diklaim sebagai balasan atas agresi udara Israel yang terus menghujam wilayah pemukiman di Lebanon.

Angkatan udara Israel sendiri melaporkan melancarkan gelombang serangan udara intensif yang menargetkan pinggiran selatan Beirut, Lembah Bekaa, hingga wilayah utara Gunung Lebanon. Dentuman ledakan yang dilaporkan terus terdengar di wilayah-wilayah strategi tersebut seiring dengan upaya Israel melumpuhkan infrastruktur Hizbullah.

Berdasarkan data terbaru dari otoritas kesehatan Lebanon hingga Senin siang, jumlah korban akibat jiwa agresi ini telah mencapai 486 orang tewas dan 1.313 orang luka-luka. Dampak sosial dari pertempuran ini juga sangat besar, di mana jumlah pengungsi yang terdaftar secara resmi kini telah menyentuh angka 667.831 jiwa.

Para pengungsi kini memadati sekolah-sekolah dan penampungan darurat di wilayah utara yang relatif lebih aman, meskipun pasokan pusat logistik dan bantuan medis mulai menipis. Komunitas internasional terus menjanjikan permusuhan guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil di kedua belah pihak. (red)

65 / 100 Skor SEO