KENDARI – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 6 Kendari menjadi sorotan setelah proses pengemasan makanan dilakukan di lingkungan sekolah oleh guru dan staf.
Kondisi ini terjadi menyusul keterlambatan distribusi makanan dari pihak penyedia yang disebut kerap terjadi, khususnya setiap hari Jumat.
Kepala SMAN 6 Kendari, Rosihan, menyesalkan keterlambatan distribusi makanan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menurutnya sudah beberapa kali terjadi.

Ia menjelaskan, pada hari-hari biasa makanan MBG biasanya sudah tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WITA.
Namun khusus pada hari Jumat, pengiriman dari pihak SPPG sering datang lebih lambat dari jadwal sehingga proses pembagian kepada siswa ikut tertunda.
“Kalau hari biasa sekitar jam 10 sudah sampai di sekolah. Tapi setiap hari Jumat sering terlambat datang,” ujar Rosihan.
Menurutnya, keterlambatan tersebut berdampak pada proses distribusi makanan kepada siswa yang akhirnya harus disiapkan di sekolah agar pembagian tetap dapat dilakukan.

Rosihan mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima pihak sekolah dari SPPG, keterlambatan itu disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya keterlambatan pasokan bahan makanan dari pihak pemasok serta keterbatasan jumlah personel yang menangani proses penyiapan makanan.
Akibat kondisi tersebut, pengemasan makanan yang seharusnya dilakukan di dapur SPPG akhirnya terpaksa dilakukan di sekolah.
Sejumlah guru dan staf sekolah terlihat membantu menyiapkan makanan sebelum dibagikan kepada para siswa.
Dalam dokumentasi kegiatan yang beredar, tampak guru dan staf sekolah menata bahan makanan seperti telur dan air minum kemasan sebelum dimasukkan ke dalam wadah makan.
Sementara itu, ratusan siswa terlihat berkumpul di halaman sekolah menunggu pembagian makanan.
Situasi ini dinilai berpotensi menimbulkan kerumunan serta mengganggu aktivitas belajar mengajar jika tidak dikelola dengan baik.
Selain itu, keterlibatan guru dalam proses pengemasan juga dikhawatirkan menambah beban tugas di luar tanggung jawab utama mereka sebagai tenaga pendidik.
Rosihan berharap ke depan distribusi makanan dari pihak SPPG dapat dilakukan lebih tepat waktu sehingga proses penyiapan tidak lagi harus dilakukan di sekolah.
“Kami tentu mendukung program MBG ini karena tujuannya baik untuk pemenuhan gizi siswa. Namun kami berharap mekanismenya bisa berjalan sesuai ketentuan dan distribusinya lebih tepat waktu,” katanya.
Sementara itu, awak media telah mencoba mengonfirmasi pihak pengelola SPPG Puuwatu terkait keterlambatan distribusi serta proses pengemasan makanan yang dilakukan di sekolah.
Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG tersebut belum memberikan tanggapan. (red)


Tinggalkan Balasan