TEHERAN, PERDETIKNEWS — Eskalasi militer di kawasan Teluk memasuki fase baru yang dipenuhi dengan klaim operasi intelijen gelap dan perang informasi. Pemerintah Iran secara resmi menuding Israel berada di balik sejumlah serangan terhadap situs energi dan fasilitas sipil di negara-negara Teluk Arab. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk memprovokasi negara-negara tetangga agar terlibat dalam konfrontasi terbuka dengan Teheran.

Tudingan tersebut muncul di tengah laporan bahwa tidak semua serangan drone dan rudal yang menghantam aset strategis di Arab Saudi dan Oman berasal dari wilayah Iran. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, yang berbicara kepada Middle East Eye (MEE) dengan syarat anonim, menegaskan bahwa Israel menggunakan jaringan Mossad untuk melakukan “serangan palsu” ( operasi bendera palsu ).

Analis politik Saudi, Adhwan al-Ahmari, menyoroti semakin meningkatnya ketidakpercayaan antara negara-negara Teluk dan Washington. Ia menyebut adanya hipotesis yang menguat bahwa konflik ini adalah “jebakan” Amerika-Israel untuk menarik Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) negara-negara ke dalam konfrontasi yang hanya akan merugikan stabilitas kawasan.

“Bagaimana jika AS mengumumkan setelah dua minggu bahwa tujuan mereka telah tercapai, lalu meninggalkan negara-negara Teluk dalam konfrontasi terbuka dengan Iran?” ujar Ahmari kepada Asharq News .

Sentimen serupa diperkuat oleh komentator politik AS, Tucker Carlson, yang mengklaim bahwa Arab Saudi dan Qatar telah menahan agen Mossad yang merencanakan pemboman. Carlson menuduh Israel sengaja mengacaukan posisi antara sekutu Arab Amerika untuk mencakup Iran sekaligus merusak sekutu regional.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pernyataannya pada hari Rabu berusaha mengurangi kekhawatiran negara-negara tetangga. Ia menegaskan bahwa Teheran menghormati kehormatan negara sahabat dan hanya melakukan pembelaan diri terhadap agresi gabungan AS-Israel yang mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan pembenaran atas serangan pendahuluan (preemptive strike ) Washington. Menurutnya, serangan tersebut diperlukan untuk meminimalkan korban jiwa di pihak AS sebelum Iran melancarkan balasan atas aksi militer Israel yang sudah diprediksi sebelumnya.

Berdasarkan data media pemerintah Iran, jumlah korban tewas akibat serangan udara gabungan selama lima hari terakhir telah mencapai 1.045 orang, dengan lebih dari 6.000 orang terluka.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam tindakan tersebut dan menuduh Washington serta Tel Aviv sengaja memprovokasi Iran agar menyerang sasaran di negara Arab. “Mereka mencoba menyeret negara-negara Arab ke dalam perang demi kepentingan pihak lain,” tulis pernyataan resmi Moskow.

Hingga saat ini, ketegangan di Selat Hormuz dan perairan Teluk tetap berada pada tingkat tertinggi, memicu kekhawatiran global akan terganggunya pasokan energi dunia. (red)

52 / 100 Skor SEO