KOLAKA – Sebuah rekaman video singkat yang memperlihatkan perjuangan memilukan puluhan pelajar di Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, mendadak menjadi sorotan tajam netizen.
Dalam video yang memicu rasa gemetar bagi siapa pun yang melihatnya, para siswa ini tampak harus bertaruh nyawa menyeberangi derasnya arus sungai hanya untuk bisa sampai ke bangku sekolah.
Kondisi infrastruktur yang minim di wilayah perbatasan Kolaka–Bombana memaksa anak-anak ini menghadapi medan ekstrem setiap hari. Saat debit air meningkat, sekolah bukan lagi tempat menimba ilmu, melainkan tujuan yang mustahil digapai.
“Kami ingin menyampaikan keluh kesah kami. Pak Bupati, tolong lihat desa terpencil kami, kadang kami tidak bisa pergi ke sekolah karena banjir,” ujar dua pelajar dalam video tersebut dengan suara bergetar, Selasa (7/4).
Merespons gelombang simpati dan kritik publik, Bupati Kolaka, Amri, akhirnya angkat bicara. Ia tidak menampik bahwa persoalan tersebut telah menjadi beban menahun yang belum terselesaikan.
Amri berkilah bahwa lokasi sungai tersebut berada di jalur lintas antar-kabupaten, sehingga kewenangan pembangunannya melibatkan Pemerintah Provinsi dan Pusat.
“Justru kami berterima kasih anak-anak menyampaikan ini, jadi pengingat untuk kita tindaklanjuti. Kami sudah sampaikan laporan ke provinsi,” kata Amri, Selasa sore.
Bukan sekadar jembatan darurat, Pemkab Kolaka kini mengklaim tengah mengupayakan pembangunan jembatan permanen berskala besar. Langkah-langkah darurat pun mulai disusun, di antaranya:

Instruksi ke Dinas PU: Melakukan peninjauan ulang dan melaporkan urgensi situasi ke Kementerian PUPR.
Program Prioritas: Memasukkan usulan pembangunan ke dalam fokus infrastruktur nasional.
Intervensi Mandiri: Pemda berjanji akan menggunakan kemampuan anggaran daerah jika bantuan dari pusat tak kunjung turun.
Kini, publik menanti apakah “ucapan terima kasih” dari sang Bupati akan benar-benar menjelma menjadi semen dan baja di atas sungai Desa Mataosu, ataukah para pelajar tersebut tetap dibiarkan bertaruh nyawa setiap pagi demi masa depan. (red)


Tinggalkan Balasan