Angkat Derajat Petani, Gubernur ASR Jadikan Sanggoleo Sultra Simbol Profesi Strategis
Bagikan
Angkat Derajat Petani, Gubernur ASR Jadikan Sanggoleo Sultra Simbol Profesi Strategis
Redaksi
03/20/2026 09:54
Sanggoleo Sultra
KONAWE, PERDETIKNEWS, — Di sebuah gudang tanpa jendela di Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, sebuah mesin baja berdengung pelan. Di dalamnya, tak ada lagi pemandangan lazim petani membungkuk kelelahan memilah gabah dengan saringan bambu.
Sebagai gantinya, mesin Rice Seed Sorter STS-600 bekerja dengan presisi digital. Mesin ini menyaring benih padi dengan ketelitian fantastis 99 persen. Angka ini seolah menampar faktor kesalahan manusia yang selama puluhan tahun merusak potensi hasil panen di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Inilah wajah baru pertanian Sultra di UPTD Balai Benih Induk (BBI) Wawotobi. Teknologi ini menjadi tulang punggung dari jenama Sanggoleo Sultra, sebuah agenda strategis yang diusung Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR), dengan satu misi tegas berhenti mengemis benih dari luar, dan mulai menentukan nasib pangannya sendiri.
Langkah besar ini berakar dari visi ASR yang menegaskan bahwa pertanian adalah “denyut nadi kehidupan masyarakat Bumi Anoa”. Bagi perwira tinggi yang terbiasa di medan tempur ini, pertanian bukan sekadar urusan logistik pangan, melainkan penopang stabilitas sosial dan ekonomi.
ASR tidak berbicara dengan retorika birokrat pada umumnya. Angka kebutuhan benih adalah sebuah diagnosis kerentanan. Di balik hamparan 96.000 hektare sawah Sultra, terdapat kerentanan besar. Setiap musim tanam, dibutuhkan sedikitnya 2.400 ton benih berkualitas. Selama ini, ketergantungan pada pasokan luar daerah terus menggerogoti kedaulatan daerah.
Transformasi ini bermula dari gudang di BBI Wawotobi. Sejak Januari 2026, balai ini menjadi satu-satunya di Indonesia Timur yang mengoperasikan kombinasi Rice Seed Sorter STS 600 dan Auto Scale Machine berbasis sistem digital.
Di gudang BBI, kemasan benih Sanggoleo Sultra tampil rapi dengan label resmi. Teknologi digital memastikan setiap kemasan memiliki bobot presisi dan kualitas yang setara dengan industri benih modern nasional.
“Sensor presisi dalam STS-600 mendeteksi anomali pada benih mulai dari ukuran, keutuhan, hingga indikasi kontaminasi yang tak tertangkap mata manusia,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distannak) Sultra, Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si, saat meninjau fasilitas tersebut beberapa waktu lalu.
Hasilnya adalah kepastian. Dengan kemurnian fisik mencapai 99 persen setara standar laboratorium internasional petani kini memiliki jaminan tumbuh yang nyata.
Namun, teknologi di gudang hanyalah awal. Sejak 16 Maret lalu, akselerasi penanaman seluas 24 hektare di BBI Wawotobi dieksekusi dengan simfoni tiga metode paralel mesin transplanter otomatis untuk presisi, metode manual untuk varietas khusus, hingga alat Tanam Benih Langsung (Tabela) pipa tarik untuk efisiensi di lahan sulit. Bahkan di angkasa, drone melayang mengaplikasikan pestisida dengan dosis terukur, mengurangi paparan kimia bagi petani sekaligus menurunkan biaya operasional.
Prof. Muhammad Taufik memantau langsung proses tanam. Monitoring ketat dilakukan untuk memastikan tidak ada pencampuran varietas (rogueing) sehingga label benih yang dihasilkan benar-benar valid.
Memuliakan Profesi Petani: Ayomi!
Dari total luasan lahan 24 hektare tersebut, produksi benih diproyeksikan mencapai sekitar 72 ton. Meski belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan benih unggul bersertifikat di Sulawesi Tenggara, langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan benih non-sertifikasi.
Seorang petugas berjalan di lumpur sawah sambil menarik rangkaian pipa PVC putih. Alat “Tabela” pipa tarik ini menjadi solusi percepatan tanam bagi para penangkar benih di Wawotobi.
Di salah satu sudut Wawotobi, sebuah baliho raksasa menancap kokoh dengan wajah Gubernur ASR dan seruan: “Ayomi ke Balai Benih!”. “Ayomi” yang dalam bahasa Konawe berarti “mari”, adalah sebuah ajakan setara untuk beralih menggunakan benih unggul bersertifikat sebagai bagian dari transformasi pembangunan.
“Petani kini dipandang sebagai profesi strategis penopang daerah, bukan pelaku usaha tradisional yang tertinggal zaman,” tegas Prof. Taufik.
Melalui Sanggoleo Sultra, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tidak hanya menyediakan benih, tetapi juga memberikan alat dan martabat yang setara dengan profesi modern lainnya di era digital. Inilah ikhtiar nyata untuk menjamin pendapatan dan kesejahteraan petani di seluruh pelosok Bumi Anoa. (red)
Tinggalkan Balasan