Jakarta – Harga emas melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Kenaikan dipicu aksi beli teknikal, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), serta sentimen positif setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana buyback obligasi.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (24/8/2026) ditutup di posisi US$ 4651,27 per troy ons. Harganya terbang 1,06%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positif emas dengan menguat 2,95% dalam dua hari terakhir.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 13 Mei 2026, atau tiga bulan lebih.

Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Selasa (25/8/2026) pukul 06.46 WIB, harga emas menguat 0,51% ke US$ 4675,1 per troy ons. Harga emas kini mulai mendekati level US$ 4700.

Analis American Gold Exchange Jim Wyckoff menilai fundamental dan teknikal emas saat ini sama-sama mendukung tren kenaikan.

“Fundamental dan teknikal emas saat ini sama-sama menunjukkan sinyal bullish untuk mengawali perdagangan pekan ini,” ujar Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, kepada Reuters.

Dia juga mengatakan imbal hasil obligasi telah stabil, bahkan sedikit turun hari ini sehingga turut menopang harga emas.

Dengan tren harga yang terus meningkat, Wyckoff memperkirakan arah pergerakan emas dalam beberapa pekan ke depan akan cenderung sideways hingga naik, kecuali muncul sinyal pembalikan teknikal.

Secara teknikal, emas telah menembus rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) pada pekan lalu. Hal ini memperkuat momentum bullish emas.

Dukungan juga datang dari aliran dana ke ETF berbasis emas. World Gold Council mencatat dana masuk mencapai 46,7 ton atau sekitar US$6,4 miliar pada pekan lalu, terbesar dalam 10 bulan.

Di sisi lain, dolar AS masih berada di dekat level terendah dalam beberapa bulan. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor di luar AS.

Pasar kini menanti data inflasi AS dan simposium Jackson Hole yang digelar pekan ini. Investor juga mencermati perkembangan sanksi AS terhadap Iran serta arah kebijakan moneter AS dan Jepang.

Berbeda dengan emas, harga perak justru melandai.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (24/8/2026) ditutup di posisi US$ 68,94 per troy ons. Harganya melemah 0,05%. Pelemahan ini mengakhiri kenaikan selama tiga hari beruntun sebelumnya.

Kendati melandai, harga perak masih di level tertinggi sejak pertengahan Juni 2026.

Harga perak mulai menguat pada hari ini. Pada Selasa (25/8/2026) pukul 06.45 WIB, harga perak menguat 0,7% ke US$ 69,41 per troy ons.

sumber: CNBC Indonesia