Kyiv – Di tengah upaya diplomasi yang mulai mengarah pada target damai Juni 2026, Ukraina justru dihantam serangan udara skala besar. Rusia melancarkan serangan brutal menggunakan 440 proyektil yang mengakibatkan sistem energi negara tersebut lumpuh total.
Serangan ini terjadi saat para diplomat sedang menyiapkan agenda negosiasi baru yang diadakan di Miami, Amerika Serikat, minggu depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyetujui skala besarnya gempuran yang menargetkan fasilitas vital warga sipil tersebut.
“Lebih dari 400 drone dan sekitar 40 rudal berbagai jenis menghujani Ukraina. Fokus utama mereka adalah sistem energi negara,” ujar Zelensky.
Berikut fakta-fakta terkait serangan besar Rusia dan situasi terkini Ukraina:
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan telah meluncurkan “serangan memancarkan” menggunakan senjata presisi jarak jauh, termasuk rudal hipersonik Kinzhal. Fasilitas pembangkit listrik dan gardu induk di wilayah Kyiv, Lviv, hingga Kharkiv mengalami kerusakan parah. Akibatnya, operator listrik Ukrenergo terpaksa menerapkan pemadaman listrik darurat di seluruh negeri.
Kondisi semakin kritis setelah unit pembangkit listrik tenaga nuklir dihentikan operasinya untuk menjaga stabilitas sistem. Dalam keputusasaan, Kyiv terpaksa meminta bantuan pasokan listrik darurat dari negara tetangga, Polandia. Efek serangan ini bahkan sempat mengganggu operasi penerbangan di Bandara Rzeszow, Polandia, yang menjadi pusat logistik vital NATO.
Di medan darat, kabar pahit datang dari wilayah Donetsk. Kota industri tambang strategis, Dimitrov (Myrnohrad), dilaporkan telah jatuh sepenuhnya ke tangan Rusia. Jatuhnya kota ini menjadi pukulan telak karena posisinya yang sangat dekat dengan pusat logistik utama di Pokrovsk. Krisis kepemimpinan di lapangan disebut menjadi salah satu pemicu mundurnya unit pertahanan Ukraina secara massal.
Ironisnya, eskalasi militer ini terjadi saat Washington gencar mendorong penyelesaian konflik pada Juni 2026. Babak negosiasi baru di Miami akan segera digelar dengan mengundang utusan Kyiv dan Moskow. Zelensky meyakini hanya pertemuan trilateral tingkat tinggi antara dirinya, Donald Trump, dan Vladimir Putin yang bisa memecahkan kebuntuan pendarahan ini.

Kini, Ukraina berada dalam perlombaan bertahan hidup. Di satu sisi mereka harus menghadapi musim dingin tanpa listrik akibat hantaman 440 proyektil, di sisi lain mereka harus bertaruh nasib di meja perundingan internasional yang diburu tenggat waktu politik. (red/pdn)


Tinggalkan Balasan