Kolaka – Di balik kemegahan proyek raksasa PT Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) di Kolaka, tersimpan jeritan pilu para pekerja lokal. Keributan besar yang pecah di kawasan industri tersebut ternyata bukan tanpa alasan. Ada keringat yang diperas, namun haknya justru diabaikan.
Kepolisian akhirnya membongkar motif utama di balik amuk massa yang viral tersebut. Kasat Reskrim Polres Kolaka, AKP Fernando, mengungkapkan fakta mengejutkan: para pekerja lokal ternyata sudah 3 bulan tidak menerima gaji!
“Masalah gaji. Gaji tidak dibayar (kepada karyawan lokal). Sudah tiga bulan,” ujar AKP Fernando dengan nada tegas saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).
Bayangkan, di tengah kerasnya pekerjaan di kawasan industri, para pejuang nafkah ini harus bertahan hidup tanpa kepastian selama 90 hari. Sementara operasional perusahaan terus berjalan di atas tanah leluhur mereka, hak dasar para pekerja justru digantung tanpa kejelasan.
Ketegangan mencapai puncaknya saat para pekerja menagih janji. Alih-alih mendapatkan hak, situasi justru memanas hingga berujung pada keributan yang melibatkan tenaga kerja asing (TKA).
Buntut dari kerusuhan tersebut, polisi telah mengamankan tiga orang ke Mapolda Sultra. Nasib mereka kini berada di tangan penyidik, sementara masalah utama—yakni gaji yang tak kunjung dibayar—masih menjadi luka menganga bagi para pekerja lainnya.
“Iya, diamankan di Polda. Ada tiga orang,” tambah AKP Fernando.
Panglima Tamalaki Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga, Irfan Konggoasa, membeberkan kronologi yang lebih menyayat hati. Menurutnya, keributan bermula saat pekerja lokal mencoba menagih hak mereka yang sudah menunggak hampir dua bulan. Namun, tuntutan perut lapar itu justru disambut ketegangan dengan tenaga kerja asing (TKA) asal Cina.

“Beberapa pekerja lokal menagih haknya, namun muncul ketegangan dengan tenaga kerja asing, khususnya pekerja asal Cina,” ungkap Irfan.
Situasi yang awalnya diupayakan damai lewat mediasi justru berubah menjadi ajang kekerasan. Irfan menyebut, sekelompok pekerja asing justru merangsek masuk dan melakukan aksi pemukulan secara membabi buta terhadap pekerja lokal.
“Saat hendak didamaikan, pekerja asing masuk secara beramai-ramai dan memukul pekerja lokal secara beramai-ramai. Ini sangat kami sayangkan!” tegasnya dengan nada geram.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih terus mendalami total kerugian dan jumlah pasti karyawan yang haknya belum ditunaikan. Publik pun kini bertanya-tanya: sampai kapan investasi besar harus dibayar dengan air mata dan perut lapar pekerja lokal? . (red)


Tinggalkan Balasan