Kendari – Apel Gelar Peralatan Polda Sulawesi Tenggara digelar sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi kontinjensi, mulai dari konflik sosial hingga bencana alam.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kapolda Sultra Irjen Pol. Didik Agung Widjanarko, S.I.K., M.H., didampingi Wakapolda serta Pejabat Utama (PJU) Polda Sultra di lapangan Mapolda Sultra, Rabu 28 Januari 2026.

Apel tersebut menjadi momentum penting untuk melakukan pengecekan alat material khusus (almatsus) agar benar-benar siap digunakan kapan pun dibutuhkan.

Dalam arahannya, Kapolda Sultra menegaskan bahwa apel gelar peralatan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret untuk memastikan kesiapan seluruh peralatan operasional Polri.

“Ini momen untuk mengingatkan kita semua, khususnya para kasatker, tentang pentingnya kesiapan almatsus. Sewaktu-waktu kita bisa membutuhkan pergerakan personel dan peralatan dalam kondisi darurat,” tegasnya.

Kapolda menjelaskan bahwa almatsus Polri terbagi ke dalam empat kelompok utama, yakni peralatan, perlengkapan, persenjataan, dan kendaraan operasional.

Keempat unsur tersebut merupakan tulang punggung keberhasilan pelaksanaan tugas Polri di lapangan dan berkaitan langsung dengan keselamatan personel maupun masyarakat.

Seluruh almatsus itu harus siap mendukung berbagai operasi kepolisian, khususnya Operasi Aman Nusa, baik Aman Nusa I terkait penanganan konflik sosial, Aman Nusa II penanggulangan bencana alam, maupun Aman Nusa III dalam menghadapi ancaman terorisme.

“Kondisi wilayah Sulawesi Tenggara yang bercirikan kepulauan, rawan bencana, serta memiliki potensi konflik sosial menuntut kesiapsiagaan kita secara sungguh-sungguh,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Sultra juga menyoroti pentingnya perawatan almatsus. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi peralatan yang tidak siap digunakan akibat kelalaian pengecekan atau perawatan.

“Jangan sampai saat dibutuhkan justru alat tidak bisa digunakan karena kedaluwarsa, seperti gas air mata atau amunisi. Ini bukan hanya merugikan secara materi, tapi juga bisa membahayakan keselamatan,” katanya.

Menurutnya, peralatan yang mendekati masa kedaluwarsa sebaiknya dimanfaatkan untuk latihan agar tetap memberikan nilai positif dalam peningkatan kemampuan personel.

Kapolda juga menyinggung pengalaman saat pelaksanaan apel di kantor BPBD, di mana pendirian tenda darurat dinilai masih memakan waktu lama.

Hal ini menjadi catatan evaluasi bahwa kemampuan personel dalam mengoperasionalkan almatsus harus terus ditingkatkan.

“Dalam situasi bencana, membangun tenda tidak boleh hanya bisa dilakukan oleh satu atau dua orang. Seluruh personel harus memiliki kemampuan dasar,” tegasnya.

Untuk itu, para kasatker diminta menunjuk operator almatsus secara tepat, memastikan penguasaan alat, serta melatih personel secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, Kapolda Sultra menegaskan prinsip kesiapsiagaan yang harus menjadi budaya kerja Polri.

“Lebih baik siap tapi tidak digunakan, daripada saat digunakan justru tidak siap,” ujarnya.

Ia kembali mengingatkan pentingnya Panca Siap sebagai pedoman kerja, yakni Siap Diri, Siap Mako, Siap Data, Siap Operasional, dan Siap Siaga.

“Dengan peralatan yang kita miliki hari ini, didukung kemampuan dan kemauan personel, saya yakin Polda Sultra dan Polres jajaran dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya. (red)

13 / 100 Skor SEO