Kendari – Garis polisi kuning masih melintang, seolah menjaga sisa-sisa nestapa di Jalan Antasari, Kecamatan Poasia, Kota Kendari. Bau sangit sisa kayu yang dimakan api belum sepenuhnya hilang, bercampur dengan aroma debu dari puing-puing bangunan yang kini rata dengan tanah.

Di sana, kehidupan seolah berhenti berdenyut sejak Jumat (23/1) sore yang mencekam itu.

Sabtu (24/1/2026) siang, matahari Kendari cukup menyengat. Di antara rangka besi kios yang menghitam dan bangkai mobil yang tak lagi berbentuk, terlihat beberapa pakaian warga dijemur seadanya di atas sisa simpanan. Itulah satu-satunya tanda bahwa mereka sedang berusaha bangkit dari titik nol.

Di tengah suasana pilu itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sultra, Parinringi, SE, M.Si., hadir mewakili Pemerintah Provinsi. Ia mendekati para pemilik usaha yang terdampak langsung, yakni Ahmad Dalle , Erick , dan Ardi .

Parinringi tidak sekedar berdiri sebagai pejabat, tetapi sebagai pendengar, menyerap keluh kesah mereka di atas tanah yang masih menyisakan hawa panas.

Kehadiran Dinsos Sultra di lokasi merupakan perintah langsung dari Gubernur Sultra, Mayjen TNI (purn) Andi Sumangerukka (ASR). Parinringi menegaskan bahwa ASR meminta pemerintah harus hadir tanpa hambatan aturan birokrasi yang kaku jika mencakup urusan kemanusiaan.

“Ini adalah Arahan Bapak Gubernur Mayjen TNI (purn) Andi Sumangerukka (ASR) dan Bapak Wakil Gubernur Hugua. Pemerintah harus hadir langsung di tengah masyarakat saat terjadi musibah,” tegas Parinringi di lokasi kejadian.

Meski secara aturan formal tanggung jawab korban di bawah 10 orang berada di tangan pemerintah kota, Pemprov Sultra memilih untuk ‘masuk’ melalui kebijakan back up demi mempercepat penanganan warga seperti Ahmad Dalle dan rekan-rekan yang kehilangan tempat usaha.

Suasana bantuan yang tadinya tegang perlahan mencair saat mulai diturunkan. Selimut merah, kasur lipat, hingga paket sembako berpindah tangan ke warga. Di saat itulah, doa dan ucapan terima kasih mengalir dari bibir para korban.

“Kami sempat merasa sendirian melihat semua tabungan kami habis jadi abu. Tapi hari ini, bantuan dari Bapak Gubernur ASR membuat kami punya cadangan. Terima kasih sudah datang saat kami masih di titik nol,” ujar salah satu pemilik usaha dengan suara bergetar.

Ahmad Dalle, Erick, dan Ardi juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas respon cepat ini. Bagi mereka, kehadiran pemerintah di tengah-tengah mengumandangkan kios adalah harapan baru untuk memulai kembali usaha mereka yang telah terbakar.

Selain membawa bantuan, Parinringi juga memberikan edukasi kepada warga. Kebakaran yang diduga akibat aktivitas pemindahan bahan bakar ini menjadi pelajaran pahit agar warga lebih waspada di masa mendatang.

“Kalau bencana alam itu di luar kuasa kita. Tapi kalau karena human error , itu bisa kita minimalisir,” imbaunya sebelum meninggalkan lokasi.

Berdasarkan pantauan Perdetiknews , rincian bantuan yang disalurkan antara lain:

  • Perlengkapan Tidur: 6 unit kasur, 6 lembar selimut, dan 6 set tenda gulung.

  • Kebutuhan Anak: 3 paket Family Kids , 6 paket makanan anak, serta 3 paket Kids Ware .

  • Logistik & Sandang: 60 paket lauk pauk, 30 paket makanan siap saji, pakaian dewasa, hingga perlengkapan sanitasi.

Kini, para pemilik kios di Jalan Antasari mulai menata kembali sisa-sisa hidup mereka. Di belakang mereka, pemerintah memastikan bahwa dalam setiap kepulan asap musibah, akan selalu ada tangan yang terulur untuk membantu mereka berdiri kembali. (red)

12 / 100 Skor SEO