Kendari – Bagi belasan pedagang di Jalan Bunggasi, Kelurahan Anduonohu, Rabu (14/1/2026) bukanlah fajar yang membawa rezeki, melainkan duka yang tak terlukiskan. Di saat embun masih membasahi atap kayu kios semi permanen mereka, api mengamuk tanpa ampun, melumat habis tempat mereka mengais rejeki.
Laporan masuk ke Damkar pada pukul 05:18 Wita, tepat saat sebagian warga baru saja usai bersujud di sajadah subuh. Namun bagi Hj. Zaenal, Ridwan, hingga Abu Faruq, fajar kali ini terasa gelap gulata.
Sisi paling memusingkan adalah ketika api diduga muncul dari sebuah kios penjual sandal yang sedang kosong. Tanpa ada pemilik yang menjaga, api bebas berpesta pora di atas bangunan papan yang kering. Dalam hitungan menit, kios sandal itu menjadi sumber petaka bagi 15 kios lainnya, 2 ruko, dan sebuah rumah tinggal.
Bayangkan hancurnya hati Ridwan dan Hendri Nado, pemilik Rumah Makan Padang yang mungkin baru saja menyiapkan bumbu masak untuk pelanggan hari itu.
Atau Sulhaji yang merintis Kios Nurul Jira, dan Ruslan di konter pulsanya. Modal yang mereka kumpulkan bertahun-tahun, kini hanya menjadi tumpukan arang yang hitam dan bau.
Sebanyak 7 unit armada pemadam kebakaran beserta unit Water Cannon polisi dikerahkan. Mereka berjibaku selama hampir tiga jam melawan suhu panas yang ekstrem. Namun, kekuatan udara seolah kalah cepat dengan kemarahan api yang melahap 2 unit motor dan 2 unit mobil milik korban.
Saat api dinyatakan padam pada pukul 08:10 Wita, pemandangan di Jalan Bunggasi sungguh menyayat hati.
Ruko milik Hj. Zaenal atau rumah milik Karmin yang berdiri kokoh. Yang tersisa hanyalah asap tipis yang menari di atas puing-puing sisa hidup mereka.

Uang sebesar Rp 2 miliar mungkin bisa dihitung secara angka, namun trauma dan kehilangan masa depan para pedagang ini tak punya nilai tukar.
Di bawah pimpinan Kadis Damkarmat Drs. Ahriawandy Effendy, petugas telah melakukan yang terbaik, namun takdir berkata lain bagi para pencari nafkah di Poasia ini.
Hari ini, belasan kepala keluarga pulang dengan tangan hampa.
Tempat usaha mereka hilang, mobil dan motor yang biasa digunakan bekerja tak lagi bisa dipacu. Jalan Bunggasi menjadi Saksi bisu, betapa cepatnya harta benda sirna saat manusia sedang terlelap dalam tidurnya.


Tinggalkan Balasan