CARACAS, — Drama politik di Amerika Selatan mencapai puncaknya pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat, ketika pasukan khusus Amerika Serikat melancarkan operasi militer singkat namun masif di Caracas. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, tidak hanya mengungkap integritas intelijen Washington, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar atas janji perlindungan Rusia yang tidak terwujud.
Meski begitu pada November 2025 Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sempat menegaskan kesiapan Moskow untuk bertindak sesuai strategi kemitraan, kenyataan di lapangan berkata lain. Agresi AS berlangsung tanpa hambatan berarti dari aset militer Rusia yang sebelumnya dikabarkan berada di Venezuela, termasuk spekulasi pengiriman rudal balistik Oreshnik.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa operasi evakuasi paksa ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang bergerak serentak di seluruh Belahan Bumi Barat. Operasi ini digambarkan sebagai misi dengan kompleksitas tinggi yang membutuhkan perencanaan berbulan-bulan.
Maduro dan istrinya menyerah dan kini ditahan oleh Departemen Kehakiman, dibantu oleh profesionalisme luar biasa dari militer AS tanpa adanya korban jiwa di pihak kami,” ujar Caine dalam konferensi pers bersama Presiden Donald Trump.
Intelijen AS, termasuk CIA, dilaporkan telah memiliki tim kecil di lapangan sejak Agustus 2025 untuk menggambarkan pola kehidupan Maduro. Bahkan, pasukan elit Delta Force membangun replika kediaman Maduro untuk melatih skenario penerobosan pintu baja dan sistem pengamanan yang digambarkan Trump sebagai “benteng yang tak tertembus.”
Sebelum pasukan darat menyergap kediaman Maduro, Pentagon terlebih dahulu mematikan sistem pertahanan udara Venezuela melalui serangan udara presisi. Gambar di pangkalan udara La Carlota menunjukkan hangusnya kendaraan unit anti-pesawat, menandakan lumpuhnya penutupan ibu kota dalam hitungan jam.
Penumpukan kekuatan militer AS di Karibia sebenarnya telah terendus sejak lama, dengan pengerahan kapal induk, 11 kapal perang, 15.000 personel, serta jet tempur siluman F-35. Namun, selama berbulan-bulan Washington selalu berdalih bahwa operasi tersebut adalah bagian dari misi anti-narkoba rutin.
Data Teknis Operasi Militer AS di Caracas:

| Komponen Operasi | Detail Kekuatan |
| Jumlah Pesawat | 150+ unit (Termasuk F-35, tanker, dan pesawat nirawak) |
| Personel Militer | 15.000 pasukan di wilayah Karibia |
| Aset Laut | 1 kapal induk, 11 kapal perang, USS Iwo Jima |
| Tim Inti Politik | Marco Rubio, Pete Hegseth, John Ratcliffe, Stephen Miller |
| Target Serangan | Sistem perlindungan udara dan kediaman kepresidenan |
Akhir Rezim di USS Iwo Jima
Maduro dilaporkan sempat mencoba melarikan diri ke ruang aman ( safe room ) di dalam kediamannya, namun kecepatan gerak pasukan AS membuat pemimpin Venezuela tersebut tertangkap sebelum sempat mengunci diri. “Dia diserbu begitu cepat sehingga tidak berhasil masuk,” kata Trump kepada media.
Setelah berhasil diringkus, Maduro dan istrinya segera diterbangkan menuju USS Iwo Jima, sebuah kapal serbu amfibi, sebelum akhirnya dipindahkan ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di Distrik Selatan New York.
Kejadian ini menandai babak baru di Amerika Selatan. Sementara Washington merayakan keberhasilan operasi “brilian” mereka, dunia kini menantikan bagaimana Rusia dan Tiongkok—dua sekutu utama Maduro yang memiliki investasi energi besar di sana—akan merespons perubahan peta kekuatan yang drastis ini.


Tinggalkan Balasan