Metropolis

Ratusan Hektare Sawah Terendam, Petani Kolaka Geruduk Kawasan Industri IPIP

62
×

Ratusan Hektare Sawah Terendam, Petani Kolaka Geruduk Kawasan Industri IPIP

Sebarkan artikel ini

KOLAKA, – Ratusan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Bersatu Padu dari Desa Lamedai dan Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), melancarkan aksi protes besar-besaran. Mereka menggeruduk kawasan Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) pada Kamis (27/11/2025) sebagai bentuk puncak kekecewaan.

Aksi ini dipicu oleh terendamnya ratusan hektare sawah mereka akibat banjir bandang. Petani menduga kuat banjir ini merupakan dampak langsung dari aktivitas pembangunan dan pembukaan lahan yang masif di kawasan industri IPIP, salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di Sultra.

Petani menuntut pertanggungjawaban serius dari PT IPIP selaku pengelola kawasan. Tuntutan utama mereka mencakup empat poin krusial yang harus segera dipenuhi:

  • Ganti Rugi Segera: Petani meminta PT IPIP membayar ganti rugi sebesar Rp31.000.000 per hektare untuk seluruh sawah yang terendam banjir.

  • Normalisasi Sungai: Melakukan normalisasi total pada Sungai Oko-Oko dan memperbaiki tanggul hingga ke bagian muara.

  • Saluran Sekunder Baru: Membangun saluran sekunder baru yang menghubungkan tanggul Sungai Oko-Oko menuju Persawahan Lawani.

  • Perbaikan Infrastruktur: Memperbaiki seluruh jalan usaha tani yang dilaporkan rusak parah akibat dampak banjir.

Selain tuntutan materiel, petani juga mendesak Pemerintah Provinsi dan Kabupaten untuk turun tangan. Mereka meminta Pemerintah serius mengawasi dugaan kerusakan lingkungan yang dinilai telah mengancam ketahanan pangan masyarakat setempat.

Jenderal Lapangan aksi, Johan, menjelaskan bahwa PT IPIP mengelola lahan seluas 11.100 hektare untuk pembangunan fasilitas vital, termasuk hauling, HPAL (High Pressure Acid Leaching), dan smelter.

Namun, menurut Johan, pembukaan lahan secara besar-besaran telah memicu deforestasi atau penggundulan hutan. Hal ini berdampak langsung pada ekosistem Sungai Oko-Oko.

”Akibat deforestasi, daya dukung dan daya tampung sungai menjadi lemah. Air hujan langsung mengalir deras ke sungai lalu meluap ke persawahan di Lamedai dan Oko-Oko. Lumpur pun menutup sawah warga,” kata Johan, menjelaskan kronologi kerusakan.

Aksi protes ini berlangsung tertib, namun dengan tensi tinggi, menunjukkan betapa mendesaknya tuntutan petani agar aktivitas pembangunan industri tidak mengorbankan lahan pertanian dan sumber mata pencaharian mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!