Pendidikan

Kebanggaan Sultra, Dua Siswa SMAN 1 Kendari Siap Saingi Ratusan Delegasi Global di PBB

1505
×

Kebanggaan Sultra, Dua Siswa SMAN 1 Kendari Siap Saingi Ratusan Delegasi Global di PBB

Sebarkan artikel ini
Bima Sutaprawira dan Fasya Indira Kirsya Aurellia, dua siswa SMAN 1 Kendari
Bima Sutaprawira dan Fasya Indira Kirsya Aurellia, dua siswa SMAN 1 Kendari

KENDARI – Dua wajah muda dari Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kendari, Bima Sutaprawira dan Fasya Indira Kirsya Aurellia, siap mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional.

Keduanya resmi terpilih sebagai perwakilan Indonesia dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 2025 yang akan digelar di Bangkok, Thailand, pada 21–25 November mendatang.

Ajang AYIMUN merupakan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempertemukan ratusan delegasi muda dari berbagai negara. Di forum ini, Bima dan Fasya akan berperan layaknya diplomat, membahas dan berdebat mengenai isu-isu global krusial.

Bima Sutaprawira, siswa Kelas XI A1, mengaku bangga mendapat kesempatan berharga ini. “Kegiatannya seperti simulasi sidang PBB. Kita menjadi delegasi dari negara yang sudah ditentukan,” ujar Bima, Senin (13/10).

Menariknya, Bima mendapat tugas mewakili negara Vietnam dengan topik yang cukup sensitif: kelayakan penerapan hukuman mati. Untuk itu, ia harus membuat position paper yang memuat pandangan resmi Vietnam. “Saya menulis tentang kondisi hukum dan penerapan hukuman mati di Vietnam, serta pandangan negara itu terhadap isu tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Fasya Indira Kirsya Aurellia, siswi Kelas XII A1, menjelaskan bahwa proses seleksi yang ia lalui cukup ketat, meliputi pengisian identitas, penulisan motivation letter, dan esai.

“Saya menulis tentang latar belakang saya di dunia debat karena sejak SMP saya sudah aktif di kegiatan debat,” ungkap Fasya. Ia menyebut, dari seluruh pendaftar di Indonesia, hanya sedikit yang lolos, dan dari Sulawesi Tenggara (Sultra) hanya mereka berdua.

Fasya mendapat peran sebagai delegasi Kanada di Dewan UNHRC (United Nations Human Rights Council). Berbeda dengan Bima, Fasya akan membawa pandangan Kanada yang secara tegas menolak hukuman mati. “Kanada sudah menghapus hukuman mati sejak 1998, jadi saya akan membawa pandangan negara tersebut yang menolak penerapan hukuman mati,” tegasnya.

Bagi Fasya, ajang ini adalah panggung emas untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan memperluas wawasan diplomasi global.

Kepala SMAN 1 Kendari, Ruslan, menyampaikan apresiasi tinggi atas prestasi siswanya. Ia memastikan sekolah akan terus mendukung potensi nonakademik siswa. “Prestasi yang diraih Bima dan Fasya ini menjadi kebanggaan bagi sekolah dan juga bagi daerah,” kata Ruslan.

Ruslan berharap, keikutsertaan di AYIMUN 2025 dapat memicu semangat pelajar lain untuk bersaing di tingkat internasional dan mencetak generasi unggul Sultra yang siap berkompetisi global. (red/jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!