Washington DC – Militer Amerika Serikat (AS) melaporkan tengah menyusun skenario operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Langkah ini disiapkan sebagai antisipasi jika Presiden Donald Trump benar-benar memberikan perintah serangan dalam waktu dekat.
Dua pejabat AS mengungkapkan bahwa persiapan kali ini jauh lebih serius dan kompleks dibandingkan bentrokan-bentrokan sebelumnya. Operasi militer yang direncanakan tersebut diprediksi tidak hanya berlangsung singkat, melainkan bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu.
Di tengah situasi yang memanas, upaya diplomasi sebenarnya masih diupayakan. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengadakan pertemuan perwakilan Iran di Jenewa pada Selasa besok dengan Oman sebagai mediator. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui bahwa mencapai kesepakatan dengan Teheran saat ini adalah hal yang sangat sulit.
Washington pun mulai menunjukkan “otot” militernya di Timur Tengah. Pentagon dilaporkan telah mengirim tambahan satu kapal induk, ribuan kapal pasukan, jet tempur, hingga perusak berpeluru kendali ke wilayah tersebut. Kekuatan ini disiagakan baik untuk melancarkan serangan maupun memperkuat pertahanan.
Donald Trump sendiri secara terbuka mulai melontarkan wacana perubahan rezim di Teheran. “Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” ujar Trump usai acara militer di Fort Bragg, Carolina Utara, Minggu (15/2/2026). Meski skeptis dengan pengerahan pasukan darat, Trump disebut lebih condong pada opsi serangan udara dan laut serta operasi khusus.
Berbeda dengan operasi “Midnight Hammer” Juni lalu yang bersifat serangan tunggal, perencanaan kali ini menyasar target yang lebih luas. Militer AS tidak hanya menyerang fasilitas nuklir, tetapi juga menjelajahi fasilitas negara dan keamanan utama Iran. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa saat ini semua opsi masih terbuka bagi Iran.
Langkah jangka panjang ini dinilai memiliki risiko tinggi bagi AS. Iran diketahui memiliki persenjataan rudal raksasa dan telah mengancam akan menghantam pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, hingga Turki jika wilayah mereka diserang. Trump sendiri menyebut alternatif selain solusi diplomatik ini akan menjadi sesuatu yang “sangat traumatis”.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuntut agar kesepakatan apa pun dengan Iran harus menjamin kepentingan vital Israel. Sementara itu, tokoh oposisi Iran di AS, Reza Pahlavi, menilai intervensi militer AS bisa mempercepat runtuhnya pemerintahan di Teheran yang menurutnya kini berada di ambang kehancuran.



Tinggalkan Balasan