Kendari, — Banjir mendadak tanpa hujan merendam permukiman warga di wilayah RW 05 Kelurahan Anawai dan RW 06 Kelurahan Wuawua, Senin malam (23/2/2026).
Warga menduga banjir dipicu kolam retensi yang jebol dan airnya sengaja dilepas sehingga meluap ke permukiman.
Berdasarkan rekaman video warga yang beredar, air terlihat mengalir deras hingga merendam jalan dan rumah warga.
Arus air datang tiba-tiba meski tidak terjadi hujan di wilayah tersebut, sehingga memicu kepanikan warga.
Ketua RW 05 Anawai, Mirkas, mengatakan banjir terjadi secara mendadak dan lebih parah dibanding saat hujan deras.
“Banjir datang tiba-tiba dan justru lebih parah dibanding saat hujan deras. Biasanya air naik perlahan kalau hujan, tapi ini langsung tinggi dan warga kaget,” kata Mirkas.
Menurutnya, air merendam puluhan rumah warga dengan ketinggian bervariasi hingga masuk ke dalam permukiman.
Warga bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka karena air datang tanpa tanda-tanda.

Dari penelusuran informasi di lapangan, warga menduga banjir dipicu kolam retensi di sekitar kawasan perumahan yang jebol.
Air dari kolam tersebut disebut dilepas sekaligus sehingga debit air meningkat drastis dan meluap ke permukiman warga.
Informasi yang dihimpun menyebut pelepasan air diduga dilakukan karena area sekitar kolam retensi dan lahan di sekitarnya tergenang.
Namun, pelepasan air secara tiba-tiba justru menyebabkan banjir di kawasan permukiman warga.
Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola kawasan maupun instansi terkait mengenai dugaan jebolnya kolam retensi tersebut.
Dugaan Dampak Pembangunan Perumahan
Selain dugaan kolam retensi jebol, warga juga menyoroti aktivitas pembangunan perumahan di sekitar wilayah tersebut.
Warga menduga terjadi penimbunan aliran kali yang sebelumnya menjadi jalur air alami dan kemudian dijadikan saluran perumahan.
Mirkas menyebut pembangunan perumahan di kawasan tersebut berlangsung cukup masif. Berdasarkan informasi warga, pembangunan diduga mencapai ribuan unit perumahan subsidi dan melibatkan lebih dari 10 developer.
Kondisi itu dikhawatirkan mempengaruhi sistem drainase dan aliran air di lingkungan sekitar.
Pihak RW bersama warga telah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah setempat.
Warga meminta kelurahan memfasilitasi pertemuan dengan pihak developer dan pengelola kawasan untuk mencari solusi.
“Kami sudah melaporkan ke kelurahan dan meminta agar pihak terkait dipanggil untuk bertemu dengan masyarakat. Kami ingin ada penjelasan dan solusi konkret,” ujarnya.
Warga juga mendesak pemerintah melakukan evaluasi terhadap perizinan pembangunan perumahan serta pengelolaan sistem drainase dan kolam retensi di kawasan tersebut.
Mereka meminta tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti melanggar aturan.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, termasuk normalisasi saluran air dan penataan sistem pengendalian banjir, agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan masyarakat tidak terus dirugikan. (red)


Tinggalkan Balasan