KENDARI — Kepala UPTD Puskesmas Poasia, Asmawati, S.ST., M.Kes, bersama Tim Penggerak PKK Kelurahan Wundumbatu melakukan kunjungan langsung kepada balita stunting dan bayi dengan status gizi kurang sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan masalah gizi di Kendari, Sabtu (14/2/2026).
Kegiatan pendampingan balita stunting ini sejalan dengan visi pembangunan kesehatan yang terus didorong Wali Kota Siska Karina Imran, yang menekankan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak.
Pemerintah Kota Kendari mendorong penguatan layanan kesehatan dasar, peningkatan gizi masyarakat, serta percepatan penurunan angka stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan pendekatan langsung kepada keluarga.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan puskesmas, PKK, serta UPT KB Kecamatan Poasia untuk memastikan balita stunting mendapatkan intervensi gizi dan layanan kesehatan yang tepat.
“Kunjungan ini merupakan bentuk tanggung jawab kami dalam memastikan anak-anak yang mengalami stunting mendapatkan intervensi gizi dan layanan kesehatan yang tepat. Pendampingan tidak hanya pada anak, tetapi juga edukasi kepada orang tua agar memahami pola asuh dan pemenuhan gizi yang baik,” ujar Asmawati.
Kunjungan dilakukan kepada dua anak yang menjadi anak asuh dalam program pendampingan intensif pencegahan stunting. Balita pertama yakni Zahnan Naizura, lahir 3 Januari 2023, anak dari pasangan Ny. Yusnawati dan Tn. Suhardin yang berdomisili di BTN Batu Marupa Blok G1 No. 22.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Zahnan memiliki status gizi tinggi badan menurut umur (TB/U) kategori stunting.

Selain itu, tim juga mengunjungi Ariel Yafet, bayi yang lahir 28 Juli 2025, anak dari Ny. Marini dan Tn. Ridar yang tinggal di BTN Batu Marupa Blok J3 No. 28. Ariel tercatat memiliki status gizi berat badan kurang sekaligus stunting sehingga membutuhkan pendampingan intensif.
Dalam kunjungan tersebut, tim memberikan bantuan makanan bergizi, melakukan pemantauan pertumbuhan anak, serta memberikan edukasi kepada orang tua terkait pola asuh dan pemenuhan gizi seimbang.
“Kami ingin memastikan setiap balita mendapatkan perhatian khusus, terutama dalam pemenuhan gizi seimbang, pemeriksaan kesehatan rutin, dan pemantauan perkembangan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Pendampingan dilakukan secara berkala guna memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Selain pemantauan kesehatan, tim juga menyampaikan edukasi pencegahan stunting melalui program “ABCDE Cegah Stunting”, antara lain aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD), pemeriksaan kehamilan minimal enam kali bagi ibu hamil, pemenuhan konsumsi protein hewani, kunjungan rutin ke posyandu setiap bulan, serta pemberian ASI eksklusif selama enam bulan.
Program pendampingan anak asuh ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dan masyarakat dalam menekan angka stunting melalui pendekatan langsung kepada keluarga berisiko.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu mempercepat perbaikan status gizi balita serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak dini.
“Penanganan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis upaya perbaikan gizi dan kesehatan anak dapat berjalan maksimal,” kata Asmawati.
Dengan pendampingan berkelanjutan dari tenaga kesehatan dan dukungan pemerintah daerah, diharapkan angka stunting di wilayah Poasia dapat terus ditekan serta kualitas kesehatan anak semakin meningkat. (red)


Tinggalkan Balasan