Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) melayangkan kecaman keras atas gelombang serangan udara berulang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (31/1). Indonesia menilai aksi militer tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang saat ini tengah berlangsung di bawah mediasi internasional.
Serangan yang menyasar kawasan sipil dan fasilitas publik ini dianggap tidak hanya memperburuk penderitaan warga Palestina, tetapi juga merusak kepercayaan internasional. Kemlu RI menegaskan bahwa tindakan tersebut menghambat upaya diplomasi menuju stabilitas dan penyelesaian politik yang berkelanjutan di kawasan yang sudah lama bergejolak tersebut.
Berdasarkan laporan di lapangan, situasi di Jalur Gaza kembali mencekam setelah otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 32 warga Palestina tewas akibat serangan tersebut. Mirisnya, sebagian besar korban dilaporkan adalah perempuan dan anak-anak. Warga di wilayah Khan Younis menggambarkan eskalasi ini sebagai yang paling intens sejak fase kedua gencatan senjata diberlakukan awal bulan ini.
Di sisi lain, militer Israel (IDF) memberikan pembelaan bahwa serangan udara tersebut merupakan respons atas dugaan aktivitas Hamas di wilayah Rafah Timur. Pihak Israel mengklaim telah menargetkan gudang senjata sebagai langkah pencegahan, namun klaim ini dibantah keras oleh Hamas yang menyebutnya sebagai kelanjutan dari agenda perang yang brutal.
Indonesia melalui Kemlu RI tetap konsisten mendesak agar Israel memenuhi kewajibannya dan menghormati setiap poin dalam kesepakatan gencatan senjata demi kemanusiaan. Pemerintah mengingatkan bahwa stabilitas tidak akan pernah tercapai selama hukum internasional dan hak-hak warga sipil terus diabaikan oleh pihak-pihak yang bertikai.
Melalui diplomasi aktif di panggung global, Indonesia berkomitmen untuk terus mengawal isu Palestina guna mendapatkan solusi yang adil dan permanen. Indonesia juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk bersama-sama menekan penghentian kekerasan agar masa tenang yang telah diupayakan sejak tahun lalu tidak berakhir sia-sia di tengah keterbatasan bantuan medis di Gaza. (red)


Tinggalkan Balasan