KENDARI, – Malam Jumat (6/2/2026) di Lorong Segar, Kelurahan Pondambea, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, berlangsung dalam kesunyian yang menekan.

Lorong selebar kurang dari satu meter itu hanya bisa dilalui sepeda motor.

Rumah-rumah berdempetan, berdiri tanpa ruang halaman, seakan tak memberi jarak bagi duka yang sedang berdiam.

Di salah satu rumah papan itulah Najwa pernah tumbuh. Kini, rumah itu menyimpan kehilangan.

Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka datang, langkahnya pelan menyusuri lorong sempit, disaksikan warga yang berjejer dengan wajah muram.

Tak ada riuh, tak ada sambutan hanya tatapan diam dan isak yang tertahan.

Najwa tinggal di rumah sederhana itu bersama kedua orang tuanya dan enam saudara kandung.

Ruang tamunya sempit, dengan sebuah spring bed bersandar ke dinding penanda ruang yang juga menjadi tempat beristirahat seluruh keluarga.

Andi Sumangerukka duduk tepat di hadapan ibu Najwa. Tak ada jarak kekuasaan di antara mereka. Yang ada hanya ruang kecil yang dipenuhi keheningan.

Tangis sang ibu pecah ketika gubernur menyerahkan bantuan berupa uang tunai dan sembako beras, mie instan, telur seraya menyampaikan rasa duka cita.

Dengan mata sembab, ibu Najwa meraih tangan Andi Sumangerukka dan menempelkannya ke dahi, sebuah gestur lirih penuh terima kasih dan kepedihan.

Gubernur menunduk. Wajahnya basah oleh air mata.

“Maaf… maaf,” ucapnya perlahan, berulang kali.

Tak ada kalimat panjang. Tak ada pernyataan formal.

Malam itu, kata maaf terasa lebih berat daripada pidato apa pun.

Seorang gubernur hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai sesama manusia yang ikut merasakan kehilangan.

Usai menemui keluarga korban, Andi Sumangerukka berbicara kepada wartawan di luar rumah.

Ia menegaskan tragedi ini menjadi pengingat keras agar anak-anak tidak lagi dibiarkan mencari nafkah di jalan.

Menurutnya, pemerintah dari tingkat provinsi hingga kelurahan harus lebih aktif menjangkau warga rentan dan memastikan bantuan sosial tepat sasaran agar anak-anak tidak terpaksa menghadapi risiko di jalan raya.

“Pelaku tabrak lari harus bertanggung jawab dan diproses sesuai hukum,” tegasnya.

Pemprov Sultra, lanjutnya, juga tengah menyiapkan skema pekerjaan bagi warga yang selama ini bergantung pada pekerjaan serabutan, melalui sistem outsourcing agar penghasilan lebih pasti.

Pelaksana Tugas Lurah Pondambea, Safaruddin Bachmid, mengungkapkan bahwa Najwa bukan satu-satunya anak dalam keluarga yang berjualan di jalan.

Saudara-saudaranya juga melakukan hal serupa demi membantu ekonomi keluarga.

“Semua anak masih sekolah. Dua SMP, sisanya SD,” jelas Safaruddin.

Ia menambahkan, pemerintah kelurahan telah beberapa kali menawarkan agar anak-anak mengikuti sekolah rakyat.

Keluarga tersebut juga sempat menerima bantuan PKH, namun terhenti akibat kendala administrasi. Saat ini, koordinasi dengan dinas sosial kembali dilakukan, termasuk peluang bantuan rumah layak huni.

Ketika malam semakin larut, Andi Sumangerukka meninggalkan Lorong Segar dengan langkah tertahan.

Duka belum hilang. Namun di rumah papan itu, negara setidaknya hadir bukan sekadar membawa bantuan, melainkan juga rasa empati. (red)

58 / 100 Skor SEO