KONAWE, –– Sebuah kenyataan pahit harus ditelan para petambak kepiting bakau di Desa Kapoiala Baru, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Di tengah masifnya industri smelter nikel, mereka justru menemukan harta budidaya mereka mati terkapar di dasar air.
“KO semua. Gagal cair, kebanyakan makan batubara mungkin kau, ” tulis Awal (31), seorang petambak lokal, dalam sebuah unggahan pilu yang dilansir dari investigasi laporan Mongabay.co.id .
Awal harus merelakan sekitar 50-an kepiting bakau ( Scylla serrata ) miliknya mati mendadak hanya seminggu sebelum panen. Padahal, beberapa di antaranya adalah kepiting kualitas ekspor dengan berat lebih dari 1 kg yang dihargai Rp1 juta per ekor. Kerugian dalam satu malam yang ditaksir mencapai Rp20 juta.
Penyebab kematian massal ini diduga kuat akibat polusi debu batubara ( fly ash ) dari cerobong PLTU milik raksasa industri di wilayah tersebut, yakni PT Obsidian Stainless Steel (OSS) dan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).
Jarak tambak dengan jalan pengangkutan pengangkut material hanya nikel sepelemparan batu. Berdasarkan pantauan lapangan, air tambak kini berubah keruh kehitaman. Pada malam hari, butiran debu batubara terlihat mengkilat di permukaan udara saat terkena cahaya senter.
Tak hanya polusi udara, laporan Mongabay juga mengungkap temuan mengejutkan terkait pembuangan limbah cair. Pada bulan November 2025, ditemukan aktivitas pembuangan cairan hitam pekat beraroma batubara dari pipa-pipa perusahaan yang mengalir langsung ke Sungai Motui—sumber air utama tambak warga.
“Sejak datang perusahaan begitu mi, mati-matian kepiting, ” ujar Tajuddin, petambak senior yang sudah bergelut di Kapoiala sejak 1991. Dulu, Tajuddin bisa meraup Rp70 juta hingga Rp100 juta dalam sekali panen, namun kini masa emas itu tinggal kenangan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT OSS maupun PT VDNI belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga dan temuan investigasi tersebut meskipun telah dihubungi berkali-kali. (red)



Tinggalkan Balasan