KENDARI — Sebanyak 54 guru mengikuti workshop implementasi pembelajaran mendalam melalui kolaborasi lintas mata pelajaran yang digelar di SMKN 4 Kendari, Jumat–Sabtu (13–14/2/2026).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
Workshop menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan pendidikan, di antaranya Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara Aris Badara, Kepala Seksi Kesiswaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra Ishak Pawai, Koordinator Pengawas Abdul Rahman, serta para kepala SMK se-Kota Kendari.
Ketua panitia kegiatan, Dr. Rahmawati Nusi, S.Pd., M.A., mengatakan workshop ini digelar sebagai upaya memperkuat kualitas pembelajaran di SMK melalui integrasi mata pelajaran umum dan kejuruan.
Menurutnya, selama ini pembelajaran di SMK cenderung berjalan terpisah antara mata pelajaran umum dan kejuruan. Padahal, di dunia kerja, pengetahuan dan keterampilan harus saling terintegrasi.
“Di dunia kerja, seseorang tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Karena itu, guru perlu merancang pembelajaran yang kolaboratif dan kontekstual,” ujar Rahmawati dalam keterangannya.


Ia menjelaskan, melalui workshop ini para guru dilatih menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kolaboratif antara mata pelajaran umum dan kejuruan.
Kolaborasi tersebut tidak selalu berarti mengajar bersama di kelas, melainkan merancang pembelajaran secara terpadu agar lebih realistis dan bermakna bagi siswa.
Rahmawati menambahkan, gagasan workshop ini berangkat dari hasil penelitian disertasinya yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi.
Model pembelajaran tersebut kemudian disederhanakan agar praktis dan dapat langsung diterapkan oleh guru di sekolah.
Selama dua hari kegiatan, peserta mengikuti berbagai tahapan, mulai dari penyamaan persepsi tentang konsep pembelajaran mendalam, menentukan pasangan mata pelajaran, memilih konteks kejuruan nyata, merancang kegiatan inti berbasis memahami–mengaplikasikan–merefleksikan, hingga menyusun asesmen terintegrasi.
Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini bukan sekadar dokumen RPP, tetapi perubahan cara pandang guru dalam merancang pembelajaran.

Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan mampu memahami konsep, menerapkannya dalam situasi nyata, serta merefleksikan proses belajar secara mandiri.
Sementara itu,
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra Aris Badara menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan workshop tersebut.
Ia mendukung penuh kegiatan ini dan berharap menghasilkan produk pembelajaran berupa RPP kolaboratif yang dapat diimbaskan ke SMK lain di wilayah Sulawesi Tenggara.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi serta memperkuat daya saing lulusan SMK melalui pembelajaran yang lebih adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. (red)


Tinggalkan Balasan