Kolaka – Sinergi antara perusahaan dan masyarakat adat terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus keberlanjutan investasi di kawasan industri IPIP Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Panglima Tamalaki Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga, Irfan Konggoasa, menegaskan masyarakat adat berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban, sekaligus mendukung aktivitas investasi yang berjalan adil dan menghormati kearifan lokal.
“Komitmen kami jelas, menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan sosial, sekaligus mendukung investasi yang berjalan secara adil dan menghormati kearifan lokal,” ujar Irfan kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).
Irfan menambahkan, masyarakat adat mendorong kolaborasi berkelanjutan dengan perusahaan, termasuk memastikan setiap tenaga kerja asing dibekali pemahaman tentang adat dan budaya lokal.
Selain itu, perhatian juga diberikan pada kesehatan masyarakat sekitar kawasan industri, prioritas bagi tenaga kerja lokal, serta pelibatan pengusaha lokal dalam kegiatan pembangunan dan penunjang.
Tamalaki bersama Forum Komunikasi Masyarakat Adat (Formakom) juga berkomitmen melakukan kontrol sosial terhadap isu-isu provokatif agar tidak mengganggu stabilitas daerah.
Mereka menegaskan dukungan terhadap TNI dan Polri dalam menjaga keamanan serta kenyamanan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Manajemen PT Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) menegaskan bahwa sinergi dengan masyarakat adat menjadi kunci terciptanya iklim investasi yang sehat dan kondusif.

Sementara itu, GM Eksternal PT IPIP Pomalaa, Dr. Saefuddin Muslimin, S.AB, M.M, mengatakan IPIP telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan konflik dan pembinaan tenaga kerja, termasuk program induksi budaya yang akan diperluas hingga ke kontraktor dan subkontraktor.
“Di IPIP, induksi bukan hanya soal keselamatan kerja. Kami juga mengenalkan budaya lokal dan adat istiadat masyarakat sekitar agar tidak terjadi gesekan,” ujarnya.
Saefuddin memaparkan, komposisi tenaga kerja di IPIP Pomalaa saat ini mencapai sekitar 13.500 tenaga kerja Indonesia.
Sementara tenaga kerja asing berjumlah sekitar 3.500 orang, mayoritas terlibat pada tahap konstruksi dan perakitan fasilitas industri.
“Tenaga kerja asing ini sifatnya sementara. Ada program alih teknologi dan alih keahlian. Peran TKA akan berangsur digantikan oleh tenaga kerja lokal,” ucap Saefuddin.
Perusahaan optimistis kawasan industri IPIP Pomalaa tetap menjadi tujuan investasi yang aman, stabil, dan berkelanjutan dalam mendukung program hilirisasi industri nasional. (red)


Tinggalkan Balasan