KENDARI, – Kabar segar berembus dari sektor pertanian Sulawesi Tenggara pada penghujung tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penambahan signifikan pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi indikator utama kesejahteraan masyarakat di pedesaan.

Pada Desember 2025, NTP Sulawesi Tenggara tercatat berada di level 103,54 . Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah pencapaian karena mengalami kenaikan sebesar 1,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 101,99.

Kunci dari peningkatan kesejahteraan ini terletak pada selisih indeks harga. Data menunjukkan bahwa indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,95 persen . Kenaikan harga jual hasil panen ini jauh lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang harus dibayar petani (Ib) untuk kebutuhan hidup dan biaya produksi yang hanya naik 0,43 persen .

Dengan kata lain, keuntungan yang didapat petani dari menjual hasil buminya tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan harga beras, cabai, maupun pupuk di pasar.

Jika membedah lebih dalam, tidak semua sektor tumbuh seragam, namun sebagian besar menunjukkan rapor hijau. Berikut rincian kekuatan ekonomi petani Sultra per subsektor:

  • Hortikultura: Menjadi juara bertahan dengan nilai 107,87 .

  • Perikanan: Menyusul kuat di angka 107,25 .

  • Peternakan: Mencatatkan nilai 106,41 .

  • Tanaman Pangan: Berada di level 102,69 .

  • Perkebunan Rakyat: Masih bertahan di angka 101,83 .

Meski demikian, tantangan besar tetap membayangi. Jika dibandingkan secara nasional, NTP Sultra masih harus mengejar ketertinggalan dari NTP Nasional yang sudah mencapai angka 125,35 .

Meski petani di desa mulai “bernafas lega”, masyarakat di perkotaan justru harus menghadapi tekanan harga. Pada saat yang sama, Sultra mengalami inflasi tahunan ( year-on-year ) yang  sebesar 2,86 persen .

Kabupaten Kolaka wilayahnya menjadi daerah dengan kenaikan harga paling tinggi (3,45%), sementara Kota Baubau menjadi daerah paling tenang dengan inflasi terendah (2,07%). Lonjakan harga ini dipicu oleh kelompok makanan, minuman, tembakau, hingga biaya perawatan pribadi yang naik hampir 10 persen. (red)

57 / 100 Skor SEO