KENDARI – Kabar gembira bagi kelestarian hutan di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sosok Muhammad Wahyudi, yang dikenal bertangan dingin dan tak kenal kompromi dalam anggota mafia tambang di Gunung Merapi, kini resmi menjabat sebagai Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara.
Kedatangan Wahyudi ke Kendari membawa reputasi besar. Ia adalah aktor utama di balik operasi besar-besaran Dittipidter Bareskrim Polri yang menyegel 36 titik tambang pasir ilegal di zona inti Merapi baru-baru ini.
Berikut beberapa poin penting terkait rekam jejak Muhammad Wahyudi:
1. Tak Gentar Hadapi Tekanan Selama menjabat di Merapi, Wahyudi dikenal sebagai pejabat yang “tahan banting” terhadap tekanan kepentingan besar. Ia secara konsisten menutup ruang gerak penambang pembohong yang mencoba merambah zona rehabilitasi hutan.
2. Sinyal Bahaya bagi 167 Titik Tambang Ilegal di Sultra Penempatan Wahyudi di Bumi Anoa terjadi saat Sultra tengah menjadi sorotan nasional sebagai wilayah dengan titik tambang ilegal terbanyak di Indonesia (167 titik). Masyarakat menanti apakah keberaniannya menggandeng Bareskrim di Merapi akan diterapkan juga untuk anggota nikel ilegal di Sultra.
3. Pesan Terakhir: ‘Jangan Takut Tekanan’ Dalam sebuah pesan singkat yang viral di kalangan media, Wahyudi sempat berpesan kepada para jurnalis untuk tidak takut memberitakan praktik penambangan ilegal. Semangat transparansi ini diprediksi akan membawa gaya baru dalam pengelolaan BKSDA di Sulawesi Tenggara.
4. Fokus Ekowisata Berbasis Warga Meski tegas terhadap mafia, Wahyudi dikenal sangat dekat dengan masyarakat sekitar hutan. Ia berkomitmen membawa misi ekonomi kreatif lewat ekowisata ke Kendari agar warga Sultra bisa sejahtera tanpa harus merusak alam.
“Dedikasi dalam menjaga ekosistem adalah cahaya yang akan terus saya bawa ke tempat tugas baru di Kendari,” ujar Wahyudi dalam prosesi pisah sambut di Yogyakarta, Selasa (13/1/2026).

Kini, tantangan besar menanti menyanyikan “Pendekar Merapi” di hutan Sulawesi Tenggara. Akankah ia mampu membersihkan Sultra dari gurita tambang ilegal? Kita tunggu gebrakan pertama di Kendari. (red)


Tinggalkan Balasan