CARACAS, — Operasi militer besar-besaran Amerika Serikat di ibu kota Caracas yang berakhir pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro memicu spekulasi global mengenai motif ekonomi di balik aksi tersebut. Meski Washington berdalih penangkapan ini merupakan bagian dari pemberantasan “narkoterorisme,” pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump justru memperkuat dugaan adanya ambisi penguasaan cadangan energi nasional Venezuela.
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Sabtu (3/1/2026), Presiden Trump secara terbuka menyatakan rencana membawa perusahaan minyak besar AS untuk membenahi infrastruktur energi di Venezuela yang rusak parah. “Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” ujar Trump sambil menegaskan bahwa investasi miliaran dolar AS akan masuk guna menggantikan kendali rezim Maduro.
Dugaan motif penguasaan posisi sumber daya alam ini didasarkan pada strategi Venezuela dalam peta energi global. Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela merupakan pemegang cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global.
Angka tersebut melampaui cadangan minyak negara-negara di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (209 miliar barel), dan Irak (145 miliar barel). Namun, kejayaan produksi minyak Venezuela yang pernah mencapai 3,5 juta barel per hari pada akhir tahun 1990-an terus merosot akibat krisis infrastruktur dan manajemen, hingga menyisakan sekitar 800.000 barel per hari saat ini.
Pasca-penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, Trump menyatakan bahwa AS akan mengelola Venezuela untuk sementara waktu melalui sebuah waktu transisi. Di sisi lain, ia menegaskan embargo minyak tetap berlaku sepenuhnya, namun memberikan kompensasi bagi perusahaan minyak AS yang nantinya membantu pemulihan produksi minyak mentah di negara tersebut.
Hingga saat ini, Chevron menjadi satu-satunya raksasa minyak AS yang masih beroperasi di sana dengan ekspor sekitar 140.000 barel per hari. Dalam pernyataan resminya, Chevron menekankan tetap fokus pada keselamatan karyawan dan integritas aset sesuai dengan peraturan yang berlaku di tengah pemerintahan politik di Caracas.
Analis energi dari Lipow Oil Associates, Andy Lipow, memperingatkan bahwa serangan ini berpotensi menghentikan ekspor minyak Venezuela secara total akibat kebingungan pembeli mengenai tujuan pengiriman pembayaran. Selain itu, langkah AS ini berbenturan langsung dengan kepentingan Rusia dan Tiongkok yang selama ini telah menjalin kerja sama usaha patungan jangka panjang dengan rezim Maduro di sektor pengilangan minyak. (red)


Tinggalkan Balasan