Kendari – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kini tengah tancap gas demi mengejar ketertinggalan produksi telur lokal yang masih mengalami defisit besar.

Sesuai dengan arahan Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR), sejumlah stimulus mulai dari bantuan fisik hingga intervensi harga pakan disiapkan bagi para peternak rakyat.

Data Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra menunjukkan sebuah angka yang kontras: kebutuhan telur di Bumi Anoa mencapai 18 juta butir, namun peternak lokal baru mampu menyuplai sekitar 7 juta butir. Artinya, ada celah 11 juta butir yang selama ini masih “diimpor” dari Sulawesi Selatan.

Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si., melalui Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanak Sultra, Abdul Rahim Undu, menegaskan bahwa mengejar defisit 60 persen tersebut adalah prioritas utama pemerintah daerah saat ini.

“Sesuai arahan Bapak Gubernur Andi Sumangerukka, dukungan kepada peternak kecil menjadi bagian terpenting. Meski ada efisiensi anggaran, kita tetap memberikan bantuan langsung berupa kandang, ternak, hingga pembinaan pakan agar kapasitas produksi peternak kita melonjak,” ujar Abdul Rahim kepada wartawan di Kendari.

Abdul Rahim mengungkapkan, tantangan terbesar peternak telur di Sultra adalah biaya pakan yang mencekik.

Guna mengatasi hal ini, pemerintah mengambil langkah strategis dengan mengusulkan alokasi Jagung SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke BULOG.

Langkah ini juga sekaligus menjadi jawaban atas isu “larinya” stok jagung lokal Sultra ke luar daerah. “Bapak Gubernur ingin potensi jagung kita dinikmati oleh peternak kita sendiri. Kabarnya jagung dari BULOG Sultra malah dijual ke luar (Sulsel), padahal peternak lokal kita sangat butuh pakan murah. Lewat SPHP ini, kita kunci stok untuk peternak Sultra,” tegasnya.

Selain bantuan fisik dan pakan, Pemprov Sultra tengah menyambut program hilirisasi ternak ayam terintegrasi dari pusat.

Program ini diharapkan dapat membangun ekosistem peternakan yang mandiri, mulai dari penyediaan bibit (DOC), ketersediaan pakan harian, hingga penjaminan pasar pasca-panen.

“Kita ingin peternakan menjadi profesi yang menjanjikan, bukan sekadar sampingan. Jika ekosistem pakan murah ini jalan dan bantuan kandang tersalurkan, kita optimis ketergantungan telur dari luar daerah bisa kita pangkas drastis,” tambah Abdul Rahim.

Akselerasi bantuan ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas harga menjelang hari besar keagamaan.

Gubernur ASR melalui Distanak Sultra ingin memastikan bahwa lonjakan permintaan telur dan daging ayam nantinya tidak dibarengi dengan lonjakan harga yang membebani masyarakat.

“Pangan adalah hal sensitif. Sesuai instruksi Gubernur, kita harus swasembada. Dengan mendukung peternak rakyat melalui bantuan sarana dan pakan murah, kita sedang membangun benteng ketahanan pangan Sultra yang mandiri dan berdaulat,” pungkasnya. (red)

24 / 100 Skor SEO