KENDARI,  – Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menetapkan target ambisi produksi gabah sebesar 1 juta ton pada tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi percepatan swasembada pangan di wilayah yang dijuluki “Bumi Anoa” tersebut.

Kepala Distanak Sultra, Prof.Dr.Ir. Muhammad Taufik, M.Si, menjelaskan bahwa target tersebut akan tercapai melalui optimalisasi anggaran dari Kementerian Pertanian serta sinkronisasi program dengan visi pelestarian pangan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka .

“Fokus utama kami adalah meningkatkan Indeks Pertanaman (IP). Kami mencoba mengoptimalkan dana yang ada untuk mendorong lahan-lahan yang selama ini hanya satu kali panen setahun menjadi dua atau tiga kali panen,” ujar Prof. Taufik di Kendari, Rabu (14/1/2026).

Untuk mencapai target 1 juta ton gabah, Distanak Sultra menyediakan penyediaan sarana dan prasarana pada lahan-lahan yang indeks pertanamannya masih rendah (IP 100). Pendekatan ini dinilai sejalan dengan instruksi Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka , yang menginginkan adanya intervensi teknologi yang tepat guna bagi petani.

“Meningkatkan satu kali panen menjadi dua kali itu tidak sulit secara teknis, menjamin ketersediaan air terjamin. Kami melakukan identifikasi lapangan; jika kendalanya air, kami bantu dengan pompanisasi atau sistem perpipaan. Jika saluran irigasi masih tanah, kami berupaya melakukan perbaikan,” jelasnya.

Selain padi, komoditas jagung juga menjadi perhatian serius. Menurut Taufik, jagung memiliki margin keuntungan yang cukup besar bagi petani di lahan kering, dengan margin bisa mencapai Rp 30 juta per hektar jika dikelola dengan bantuan benih unggul yang tepat.

Di sisi lain, percepatan swasembada pangan ini dibarengi dengan penegasan aturan utama bagi Pemerintah Kabupaten.

Distanak Sultra mendorong setiap daerah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B) demi menjaga visi besar Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka , dalam melindungi aset lahan produktif daerah.

“Kabupaten yang memiliki Perda LP2B akan diprioritaskan menerima bantuan insentif. Ini bentuk proteksi agar lahan yang sudah dicetak tidak mudah beralih fungsinya menjadi kawasan industri atau perumahan,” tegas Taufik.

Tak hanya sektor tanaman pangan, ketahanan pangan di Sultra juga diperkuat melalui sektor peternakan. Prof Taufik melaporkan kenaikan populasi ayam pedaging hingga 2 juta ekor, yang didukung oleh ketersediaan pakan berbahan dasar jagung lokal.

Sinergi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), seperti yang terjadi di wilayah Kolono, juga diapresiasi karena membantu petani dalam pengadaan bibit dan pupuk serta menjamin penyerapan hasil panen ( off-taker ).

“Melalui kolaborasi semua pihak, kami optimis Sultra tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga menjadi penyuplai utama pangan untuk wilayah Indonesia Timur dan IKN,” tutupnya. (red)

24 / 100 Skor SEO