KENDARI, PERDETIKNEWS.COM – Di tengah dinamika ekonomi akhir tahun, masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) menghadapi perubahan beban pengeluaran yang signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi motor utama inflasi di Bumi Anoa dengan kenaikan mencapai 9,78 persen secara tahunan ( year-on-year ).
Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Plt. Kepala BPS Sulawesi Tenggara, Andi Kurniawan, SST., M.Si. , inflasi Sultra pada Desember 2025 secara umum berada di angka 2,86 persen. Namun, dampak pada sektor perawatan pribadi menjadi anomali karena kenaikan kelompok pengeluaran pokok lainnya.
Penyumbang utama dari meroketnya kelompok ini adalah emas perhiasan. Komoditas ini memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,70 persen.
Fluktuasi harga emas yang terus meningkat di pasar global berdampak langsung pada daya beli masyarakat lokal yang masih menjadikan emas sebagai instrumen investasi sekaligus gaya hidup.
Selain emas, tren perhatian terhadap penampilan juga terlihat dari subkelompok perawatan pribadi lainnya yang melonjak tajam hingga 24,79 persen.
Berbagai kebutuhan harian seperti sabun mandi, pasta gigi, sampo, hingga sabun pembersih wajah tercatat memberikan andil kolektif terhadap laju inflasi.
“Kenaikan indeks pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan kontribusi inflasi tahunan sebesar 0,78 persen bagi Sulawesi Tenggara,” ujar Andi Kurniawan dalam rilis tertulisnya.

Hal yang kontras terlihat pada kelompok pakaian dan alas kaki yang justru mengalami deflasi sebesar 0,81 persen. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran prioritas konsumsi masyarakat. Warga Sultra cenderung menahan diri untuk berbelanja pakaian baru, namun tetap mengalokasikan anggaran lebih besar untuk emas perhiasan, perawatan diri, serta sektor pendidikan yang juga naik 5,05 persen.
Secara wilayah, tekanan harga ini paling dirasakan oleh penduduk di Kabupaten Kolaka yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen. Sebaliknya, Kota Baubau menjadi daerah dengan stabilitas harga terbaik dengan inflasi hanya 2,07 persen.
Meskipun emas dan gaya hidup mendominasi secara persentase, komoditas pangan tetap menjadi penyumbang andil yang besar secara riil. Beras masih memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,53 persen, disusul ikan layang dan ikan bandeng.
Kondisi ini menjadi catatan bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Sultra. Mengendalikan harga pangan tetap menjadi prioritas, namun pengawasan terhadap komoditas sekunder seperti emas dan jasa perawatan diri kini mulai mendesak, mengingat dampaknya yang kian besar terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) di awal tahun 2026. (red)


Tinggalkan Balasan