Laptop sudah terbuka di atas meja putih bermotif granit ini, siap menampung sisa-sisa kata dari liputan di Dinas Tanaman Pangan Sultra tadi pagi. Di samping kursi, ponsel saya sedang mengisi daya sebuah rutinitas kecil agar koneksi ke dunia luar tetap terjaga, meski saat ini saya memilih untuk sedikit “mematikan”.

Di R Garage 2000 , saya tidak memesan apa-apa. Tubuh saya masih dalam masa transisi, beratnya turun tiga kilogram setelah tiga minggu “berdamai” tanpa karbohidrat.

Meski kemarin sempat ada rasa kliyengan yang mampir, siang ini saya merasa lebih ‘ringan’. Tanpa kopi di tangan, saya justru lebih peka merasakan sekitar.

Musik dari pengeras suara cafe mulai mengalun. Suara khas David Naif membawakan nostalgia yang jenaka, lalu berganti menjadi petikan gitar Payung Teduh yang melankolis namun teduh seperti namanya.

Musik itu berbaur antara kaki-kaki meja kayu ala Informa tempat saya berpijak, menyatu dengan deru air dosmering di luar sana yang sedang sibuk mempercantik kendaraan saya.

Sambil menunggu baterai ponsel terisi dan mobil kembali bersih, saya menyadari satu hal: kebahagiaan seorang jurnalis tidak selalu mencapai batas waktu atau berita besar.

Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk duduk diam, mendengarkan lagu ‘Akad’ atau ‘Resah’, sambil mensyukuri setiap napas dan setiap gram berat badan yang hilang.

Di tempat milik pasangan yang baru memulai hidup baru di Ibu Kota ini, saya juga merasa sedang merayakan kehidupan saya sendiri dengan cara yang paling tenang.

Datanglah ke sini, duduklah di meja putih ala Informa ini, dan biarkan kendaraan Anda dimanjakan di tempat cuci mobilnya sementara Anda menyesap suasana yang begitu hangat.

Siapa tahu, Anda bisa menikmati kopi tanpa rasa kliyengan seperti saya, sambil merayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang ditawarkan tempat ini.

Percayalah, pulang dari sini, bukan hanya mobil Anda yang berkilau, tapi suasana hati Anda juga akan ikut bersinar. Sampai jumpa di Jalan Syech Yusuf!.

(IKHSAN)

16 / 100 Skor SEO